POLRESTA Bogor Tangkap Penjual Obat Keras Ilegal

784

Tim Pemburu Narkotika (TPN) Polresta Bogor Kota, Polda Jawa Barat menangkap tiga pelaku penjualan obat-obat keras ilegal yang beroperasi di wilayah Kota Bogor.

“Tiga pelaku ditangkap di tiga lokasi berbeda, dalam operasi yang dilakukan TPN selama dua pekan terakhir,” kata Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Suyudi Ario Seto, Senin.

Suyudi mengatakan, penangkapan ketiga pelaku merupakan pengembangan dari pengungkapan kasus penjualan farmasi jenis obat keras di bulan Februari lalu. Dari ketiga pelaku, petugas menyita 141.201 butir obat keras terdiri dari 17 jenis.

“Tiga pelaku termasuk dalam jaringan ML yang khusus menjual obat-obat keras secara ilegal,” kata Suyudi.

Ia menyebutkan, peredara obat-obat keras diatur oleh undang-undang, pembeliannya juga harus melalui resep dokter di apotek resmi. Namun, ketiga pelaku sindikat ML ini menjualnya di toko kelontong.

“Obat-obat itu mereka perjualbelikan kepada remaja-remaja yang mengkonsumsi obat -obatan ini sebagai psikotropika,” katanya.

Untuk mengelabui petugas, pelaku penjual obat menggunakan modus menjual alat-alat kelontong. Tetapi menyediakan obat-obat keras kepada konsumennya.

“Mereka kedoknya jual alat kelontong, tapi di dalamnya menjual obat-obat keras ini,” katanya.

Obat-obat keras yang beredar ilegal tersebut seperti, Hexymer, Tramadol, Trihexyphenidil, Mefenemat, Amlodipine, Super Tetra, Neuralgin, Lopamid, Metformin, Amoxciline, Simvastatin, Dexteemplus, Incidalod, Dulmolid, Xanax, Alprazolam, dan Riklona.

Menurut Suyudi, TPN sedang berupaya melakukan pengembangan untuk membongkar jaringan yang menyuplai obat-obat keras tersebut hingga beredar bebas di masyarakat.

Penggunaan obat-obat keras tersebut juga telah disalahgunakan sebagai psikotropika. Banyak pelajar yang beralih menggunakan obat-obatan keras karena harganya lebih terjangkau dibanding narkotika.

“Mereka mengemas obat-obatan ini dalam bentuk paket murah dijual seharga Rp10 ribu sampai Rp25 ribu,” katanya.

Sementara itu, Kasat Narkoba Polresta Bogor Kota Kompol Yuni Purwanti Kusuma menyebutkan peredara obat keras secara ilegal sangat meresahkan karena menyasar para remaja dan pelajar.

“Pedagang ini mendapatkan keuntungan Rp2,5 juta dari pejualan obat keras ini dalam sehari,” katanya.

Ia menyebutkan pelaku membeli obat secara ilegal dari jaringan bawah tanah, 10 papan seharga Rp65 ribu. Satu papan berisi 10 butir, dijual kembali dengan harga Rp260 ribu.

“Ini yang kita dalami, pelaku penyuplai obat-obatan ini kepada pedagang. Kami masih terus dalami, dan akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan juga BPOM,” katanya.

Para pelaku inisial ML (33) ditangkap di Cimahpar yang merupakan gudang penyimpanan obat-obat keras ilegal ini. ZL (20) ditangkap di Kecamatan Bogor Timur, dan RZ (30) ditangkap di Cimanggu, Kecamatan Tanah Sareal.
Ketiganya dijerat dengan Pasal 196 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dan Pasal 60 Ayat (2) subsider Pasal 60 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang psikotropika dengan ancaman 15 tahun penjara. (Antara)

sumber gambar :www.google.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here