Media Online Laku, Toh Media Cetak Santai Aja!

922
Pengiklanan Media Online (Google Images)

Saat ini di Bogor warga sedang resah dengan aksi damai angkot atau agkutan online yang berujung tawuran dan lain-lain. Seperti yang terjadi 2 hari belakangan ini di jalan K.H. Soleh Iskandar.

Tapi pernah kepikiran gak sih BogorNetizen dengan media online seperti Bogor.net atau situs media online lainnya yang mungkin mengambil peran media cetak pada era teknologi yang semakin berkembang ini? Memang sekarang masih banyak orang yang membeli koran atau media cetak lainnya, tapi tetap saja saat ini media cetak gak selaku dulu. Banyak orang yang pindah ke media online, dan media cetak yang juga mengeluarkan situs berita agar tetap dapat mengikuti perkembangan zaman.
Bagi koran-koran hal itu pada bukan semata merupakan “ancaman revolusi”, sebaliknya kalau dapat memanfaatkan kemajuan tersebut justru merupakan peluang emas bagi evolusi sehingga semboyan “informasi bergerak cepat” tetap terus berjalan.

Lalu kenapa Angkutan Kota tidak berfikir demikian? Dalam angkutan online berlaku peraturan-peratuan yang harus dijalankan dan jika tidak mereka akan dikenakan sanksi atau hukuman. Sedangkan angkot jika ugal-ugalan, para penumpang juga bingung harus lapor kemana.

Lalu kenapa mereka merasa tersingkirkan? Penumpang masih banyak membutuhkan angkot. Diluar sana masih banyak warga Bogor yang tidak memiliki handphone android untuk memesan angkutan online, banyak pelajar yang memiliki uang pas-pasan untuk tetap dapat berangkat kesekolah dengan menggunakan angkot.

Angkutan online saat ini memang belum memiliki aturan yang jelas, tidak ada izin trayek dan KIR seperti angkot, namun apabila kita melihat dari sudut pandang lain, angkutan online juga harus melakukan perawatan kendaraannya tiap bulan agar tetap bisa terus beroperasi. Mereka memiliki surat-surat kendaraan yang lengkap dari SIM maupun STNK.

Banyaknya masyarakat yang ‘melek’ teknologi untuk beralih ke moda transpotasi online ini juga dipengaruhi oleh prilaku angkot itu sendiri, yang lebih sering ngetem sehingga banyak waktu yang terbuang bagi para penumpangnya.

Namun terlepas dari itu semua, pada dasarnya warga Bogor masih membutuhkan keduanya. Angkot dan Ojek online memiliki penumpangnya masing-masing. Masalah regulasi atau aturan yang jelas mari kita tunggu dari pihak yang memiliki wewenang untuk merumuskan permasalahan ini.

Sebaiknya, Angkot maupun Transportasi Online saling introspeksi diri masing-masing tanpa provokasi dan tindakan anarkis, semua warga Bogor berhak mencari nafkah di Kota tercinta ini. Mari kita tunjukan bahwa Bogor, Kota Kesayangan, Indah, Aman, dan Nyaman.

Belajarlah dari media cetak yang juga tergerus oleh peranan media online.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here