Pelari : Kebun Raya Bogor Tidak Mudah Ditaklukan

463
Sebayak 1.000 pelari mengikuti Kebun Raya Bogor 200K Run, mulai dari jarak jauh atau ultra marathon, hingga jarak dekat lima kilometer, lari dalam kebun raya menjadi tantangan bagi setiap pelari, Minggu. (google images)

Sebayak 1.000 pelari mengikuti Kebun Raya Bogor 200K Run, mulai dari jarak jauh atau ultra marathon, hingga jarak dekat lima kilometer, lari dalam kebun raya menjadi tantangan bagi setiap pelari, Minggu.

Rudy Rochmansyah selaku Race Director KRB 200K Run, menyebutkan, dari 20 peserta lari ultra marathon 200K, hanya tujuh orang yang mampu menyelesaikan lomba.

“13 orang gugur tidak mampu menyelesaikan lomba, mereka kelelahan, mengantuk, dan merasa rute ini berat,” kata Rudi.

Begitu juga untuk ultra marathon 100K diikuti 30 peserta, namun tidak semuanya mampu menyelesaikan tantangan sampai finish, atau DnF dalam istilah lari.

“Banyak yang tidak siap dari sisi tubuhnya, menyatakan DnF, bisa karena lelah atau stamina sudah lambat,” kata Rudy.

Rudy menyebutkan, lari ultra marathon di dalam Kebun Raya Bogor baru pertama kalinya digelar dalam rangka Ulang Tahun ke-200 Kebun Raya Bogor. Lomba lari berlangsung dua hari yakni Sabtu (20/5) untuk kategori 200 km, 100 km dan 50 km.

Dan Minggu untuk kategori jarak pendek yakni lima km, 10 km, 21 km, 50 km, dan 100 km, diikuti 950 peserta dari berbagai wilayah dan juga sembilan negara.

Menurut Rudy secara kelayakan, rute Kebun Raya Bogor sangat layak dijadikan tempat lari. Karena biasa digunakan oleh pelari untuk joging.

“Untuk rute lari di KRB menarik, enak, tantangannya jalan naik turun, nilai plusnya udara bersahabat, sejak dan banyak pohon,” katanya.

Tetapi secara kontur, karena rute di Kebun Raya Bogor tidak datang, ada lintasan yang naik turun, sehingga jadi tantangan bagi pelari.

“Inikan lari ultra, jaraknya jauh, jadi berlari memutari kebun raya juga bisa jadi tantangan,” katanya.

Ia mejelaskan, pada lari Ultra Marathon 200K, pelari harus berlari mulai pukul 05.33 WIB sehari sebelumnya. Berlari sebanyak 16 kali putaran (80 km) di dalam Kebun Raya Bogor dan harus selesai dalam waktu 13 jam.

“Setelah berlari di dalam, dilanjutkan lari di luar kebun raya, sekitar pedestrian sejauh 80 km,” kata Rudy.

Heroin Parulian (45) peserta lari jarak 100K mengaku tertantang untuk menyelesaikan perlombaan, walau tidak mudah untuk mencapai finish.

“Saya biasa ikut trail, lintas alam gitu. Baru kali ini di dalam, lintasannya aspal, dan memutar berkali-kali sempat bikin halusinasi dan mual,” katanya.

Tetapi segala rintangan tersebut berhasil dilalui pelari yang tergabung dalam komunitas Trainning With Friends (TWF) dari Jakarta.

“Lari di Bogor udaranya bersih, dan traknya yang naik turun jadi tidak bosan, beda ama Jakarta yang datar,” katanya.

Heroin sudah menggemari lari sejak tiga tahun silam. Berbagai lomba ultra marathon telah diikutinya seperti, Bromo Tengger Semeru (BTS) 75K, BTS 102K, Merdeka Run 70K, Nusantara run 145K, Ultra Rinjani ultra run 21K, Sentul Marathon 60K.

“Setahun bisa tiga kali ikut ultra marathon,” katanya Heroin yang sukses meraih juaran 3 KRB 200K Run. (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here