Dinkes Bogor Gagas Gerakan Satu Hari Sehat

377
Dinas Kesehatan Kota Bogor, Jawa Barat, menggagas Gerakan Satu Hari Sehat untuk meningkatkan asupan zat besi, dan gizi pada remaja dimulai dari sekolah. (google images)

Dinas Kesehatan Kota Bogor, Jawa Barat, menggagas Gerakan Satu Hari Sehat untuk meningkatkan asupan zat besi, dan gizi pada remaja dimulai dari sekolah.

“Rencananya gerakan ini dicanangkan pada Hari Anak Juli 2017 mendatang,” kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraini di Bogor, Rabu.

Erna menjelaskan, Gerakan Satu Hari Sehat ini mengajak anak-anak sekolah membawa bekal sehat dari rumah, berolahraga 30 menit dan mengkampanyekan makan buah.

“Khusus untuk remaja putri ada pemberian suplemen tambah darah untuk meningkatkan zat besi,” katanya.

Menurutnya, remaja putri berisiko tinggi mengalami anemia karena siklus menstruasi yang dialami setiap bulan. Sehingga membuat mereka kurang zat besi. Kekurangan zat besi saat mestruasi akan berpengaruh ketika dewasa dan mempengaruhi kondisi kehamilan.

Pemberian suplemen penambah darah kepada remaja putri dilakukan rutin setiap tahun, dan sudah berjalan sejak dua tahun lalu. Suplemen diberikan kepada 10 persen dari total remaja putri di Kota Bogor.

Erna menyebutkan, gerakan satu hari sehat merupakan salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor dalam rangka menciptakan generasi berkualitas. Karena berdasarkan hasil Studi Kohort Puslitbang Gizi, Kementerian Kesehatan, 1/3 bayi di Kota Bogor lahir `Stunting` atau bertumbuh pendek, dan kurang gizi.

Kondisi tersebut dipicu oleh ibu hamil berisiko yakni melahirkan di usia kurang dari 20 tahun, atau lebih dari 35 tahun, ibu hamil berukuran tubuh pendek, kurang zat besi, hypertensi, dan berat bada kurang saat hamil.

Selain itu, dari hasil evaluasi Mobil Curhat, berkembang konsep “body image” di kalangan remaja putri Kota Bogor. Yakni menginginkan betuk tubuh kurus layaknya peragawati.

“Karena konsep `body image` ini mereka melakukan diet yang berlebihan supaya memiliki badan yang kurus, tapi tidak memperhatikan kualitas gizinya. Sehingga mereka cenderung terkena anemia,” katanya.

Ia mengatakan, untuk memiliki tubuh ideal harus memperhatikan pola makan dan kada gizi yang seimbang. Tubuh ideal dapat diukur dengan indek masa tubuh yakni membandingkan tinggi badan dan berat badan.

“Rumusnya berat badan dibagi tinggi badan lalu dikuadratkan,” katanya.

Menurut Erna, mengubah perilaku perlu gerakan dan kepedulian semua. Kebanyakan anak-anak menghabiskan waktu selain di rumah adalah di sekolah. Sehingga perlu gerakan satu haru sehat di sekolah.

“Gerakan ini mendorong bagaimana menerapkan pola hidup sehat di sekolah, kalau di rumah ada Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau Germas, dan sekarang bagaimana di sekolah,” kata Erna.

Ernam menambahkan, gerakan Satu Hari Sehat perlu peran serta Dinas Pendidikan, yang memiliki kewenangan terhadap sekolah-sekolah yang ada di Kota Bogor.

“Jadi ini bukan tugas Dinas Kesehatan saja, melainkan Dinas Pendidikan juga harus terlibat,” katanya. (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here