Profauna : Waspadai Jasa Kurir Satwa

231
Sumber Gambar : ayobandung.com

Aktivis Profauna Indonesia menyebutkan penjualan satwa di tanah air saat ini memiliki modus baru lewat kurir satwa dengan memanfaatkan jasa pengiriman.

“Keberadaan kurir satwa ini membuat pekerjaan rumah mengedukasi masyarakat
jadi bertambah,” kata aktivis Profauna Indonesia, Rinda Aunillah Sirait,
melalui siaran persnya di Jakarta, Senin malam.

Hal itu, kata dia, tidak terlepas dari fakta-fakta di lapangan, seperti,
pada Januari 2017, pihak Kantor Pos Ciamis, Jawa Barat meminta informasi
aturan satwa dilindungi kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)
setelah menghadapi kasus paket satwa dilindungi berupa kulit ular dan
buaya yang gagal lolos di Bea Cukai sehingga paket tidak sampai tujuan.

Kondisi ini dinilai PT Pos berpeluang mempengaruhi omzet layanannya, katanya.

Atau modus lainnya, ia menambahkan dengan cara titipan paket ke bus atau
truk. Paket satwa itu ditutup di luar pool atau terminal. “Kurir `sato`
(hewan), usahanya perorangan, khusus jasa antar satwa biasanya berkarakter
penurut, polos namun cukup nekat,” katanya.

Ia juga menyebutkan calo satwa sebagai penghubung calon pembeli dengan
penjual, memanfaatkan fee. Calo membeli dahulu satwa yang dipesan calon
pembeli lalu menjual dengan memanfaatkan selisih harga.

Karakter calo, memiliki kemampuan berkomunikasi secara verbal. Serta
memiliki kemampuan mengembangkan komunikasi melalui beragam saluran
berbasis teknologi. “Multi akun dalam satu medsos, multiplatform medsos,
memiliki nama alias. Itu berkaitan dengan pola pengamanan dan modus
operandi,” katanya.

Sebelumnya, Rinda Aunillah Sirait menyebutkan modus baru tersebut seperti
jasa layanan pengiriman barang yang saat ini tengah digandrungi dalam
bisnis online. Mereka menjadi pihak ketiga yang mengantarkan satwa
dilindungi dari penjual ke pembeli.

“Kami identifikasi dia berasal dari
peralihan bisnis jadi pengembangan bisnis pedagang satwa di Pasar
Sukahaji, Kota Bandung,” ujar Rinda di Bandung, Senin.

Dari data yang dimilikinya, para kurir
tersebut awalnya merupakan pedagang satwa. Namun karena melihat peluang
yang lebih menjanjikan, mereka beralih profesi sebagai pengantar.

Bahkan kata dia, para kurir berani
menjamin kerahasiaan identitas pembeli maupun penjual jika sewaktu-waktu
tertangkap aparat penegak hukum.

“Jadi kalau kena (tertangkap), yang kena
ditanggung si kurir. Itu jadi garansi penjual,” katanya.

Menurutnya, perkembangan bisnis baru ini
mulai terdeteksi di awal tahun 2017. Adapun hewan yang sering
diperjualbelikan seperti reptil, elang, burung hantu, anak lutung, dan
beberapa hewan dilindungi lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here