Pengamat : Pelestarian Terumbu Karang Harus Libatkan Masyarakat

662
sumber gambar : mldspot.com

Pengamat sektor kelautan dan perikanan Abdul Halim
menyatakan berbagai program pelestarian terumbu karang harus melibatkan
masyarakat pesisir yang tinggal di sekitar kawasan perairan tersebut.

“Program konservasi ekosistem yang tidak melibatkan masyarakat hanya
berujung sia-sia,” kata Abdul Halim di Jakarta, Selasa.

Menurut Direktur Eksekutif Center of Maritime Studies for Humanities itu,
pemerintah harus belajar dari program seperti Coremap beberapa tahun lalu.

Program Coremap atau “Coral Reef Rehabilition Management and Programme”
telah diaudit oleh BPK.

Abdul Halim mengungkapkan, hasil audit BPK hasil audit terhadap indikator
kondisi biofisik yang meliputi terumbu karang dan tutupan karang hidup
yang dibandingkan dengan kondisi setelah akhir program tidak mengalami
perubahan signifikan atau cenderung menurun.

Dengan kata lain, pelaksanaan Coremap pada beberapa kabupaten dinilai
tidak memiliki dampak yang signifikan atas peningkatan kelestarian terumbu
karang dan kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah Coremap.

Abdul Halim juga memaparkan, proyek Coremap membebani keuangan negara
dengan meloloskan permohonan anggaran sebesar 47,38 juta dolar AS yang
diperoleh dari Bank Dunia.

“Apa yang terjadi pada Coremap merupakan contoh nyata gagalnya program
yang tidak menyejahterakan masyarakat dan justru memperbesar utang,”
paparnya.

Menurut dia, manfaat program seperti Coremap sangat kecil karena
semangatnya bukan gotong-royong, melainkan menempatkan masyarakat semata
sebagai obyek.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengingatkan berbagai
pihak tentang pentingnya menjaga terumbu karang di berbagai daerah karena
hal tersebut sangat vital bagi keberlangsungan dan kelestarian ekosistem
laut nasional.

“Koral (terumbu karang) adalah tempat awal menjaga ekosistem laut,” kata
Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP Brahmantya Satyamurti Poerwadi di
Jakarta, Jumat (8/9).

Untuk itu, ujar dia, dengan berusaha terus memperbaiki kualitas terumbu
karang dan padang lamun di kawasan perairan Indonesia juga sama dengan
memastikan potensi sumber daya perikanan tetap terjaga.

Berdasarkan data LIPI, hasil pengukuran terkini melalui pemetaan satelit,
luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 kilometer persegi atau
sekitar 10 persen dari terumbu karang dunia.

Sementara dari total 1.064 stasiun pengamatan pada 108 lokasi di
Indonesia, didapat status terumbu karang yaitu 68 titik (6,39 persen)
sangat baik, 249 titik (23,4 persen) baik, 373 totol (35 persen cukup),
dan 374 titik (35,15 persen) jelek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here