Bima Paparkan Alasan Berkunjung ke Luar Negri

340
Sumber Gambar : beritagar.id

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto memberi penjelasan
tentang kunjungannya ke luar negeri yang menjadi perdebatan sejumlah pihak
termasuk kalangan media, terutama kunjungan terakhir ke Belanda dan
Bangkok dalam waktu berdekatan.

“Kemarin memang sempat dilematis, ada perjalanan ke Belanda yang sudah
direncanakan jauh-jauh hari, juga ada ke Bangkok yang sebetulnya itu juga
sudah direncanakan sebelumnya. Tapi begitu dilihat jadwalnya mepet sekali,
baru pulang dua hari, langsung ke Bangkok,” kata Bima dalam bincang dengan
wartawan, di Bogor, Rabu (27/9).

Bima menjelaskan mengawali masa jabatannya sebagai wali kota, ia
mengevaluasi daftar kegiatan dan anggaran kunjungan dinas wali kota yang
dinilainya terlalu besar yakni Rp3 miliar.

“Anggapan saya anggaran itu terlalu besar,” kata Bima pula.

Ia lalu melakukan pemotongan anggaran tersebut termasuk anggaran bagian
umum dan kedinasan ikut dikurangi dari Rp3 miliar menjadi Rp1 miliar dalam
setahun.

Bima mengatakan pemotongan anggaran dari tiga menjadi satu miliar rupiah
itu karena konsentrasi biaya bisa dialihkan untuk yang lain. Tapi,
anggaran satu miliar itu pun masih dibatasi olehnya.

“Kepergian saya (ke luar negeri) untuk yang betul-betul terkait program
prioritas dan apabila diundang atau dibiayai oleh panitia. Jadi setiap
saya berangkat itu pasti ditanggung akomodiasi sama panitia, dalam rangka
membuat efisiensi. Kira-kira begitu,” katanya.

Bima memaparkan bahwa setiap ke luar negeri pasti ada
pertanggungjawabannya yang diberikan, sering kunjungan ke luar negeri
kalau dilihat dari undangan yang masuk sebulan bisa dua sampai tiga kali
kunjungan ke luar negeri.

“Kalau kita layani semua, betul-betul menguras waktu di luar. Jadi itu
betul-betul dibatasi, betul-betul dipilih,” kata Bima lagi.

Politisi PAN itu berpendapat kunjungan ke luar negeri yang banyak
dilakukannya untuk bertemu, berkunjung dan berdiskusi, dari kunjungan
tersebut bermacam-macam bantuan masuk ke Kota Bogor baik itu bantuan
fisik, alat dan pelatihan.

Menurutnya banyak hal yang dirasakan manfaatnya ke luar negeri untuk
jangka panjang. Secara pribadi dirasakan olehnya manfaat keterlibatan Kota
Bogor di forum-forum internasional seperti ICLEI yang telah dirintis oleh
wali kota sebelumnya Diani Budiarto.

“Jadi Pak Diani banyak membangun jaringan dengan kota-kota lain di ICLEI,
sehingga ketika saya menggantikan pak Diani, masihlah bantuan-batuan yang
mengucur semua tidak lepas dari komunikasi yang dibangun oleh pak Diani,”
katanya.

“Itu pun yang saya harapkan, ada hal-hal yang sekarang bisa dirasakan
Insya Allah ada manfaatnya nanti bagi siapa pun yang menggantikan saya
nanti,” lanjut Bima.

Dia menyebutkan jaringan kerja sama internasional seperti ICLEI, City Net
yang dibangun oleh Kota Bogor dapat mengisi keterbatasan anggaran APBD
untuk program pembangunan.

“Kita tidak bisa bertumpu semua program dari APBD Rp2,1 triliun. Kita
berharap jaringan internasional tersebut bisa mengisi itu,” katanya pula.

Ia menyebutkan tidak banyak kepala daerah di Indonesia yang mau dan mampu
untuk berartikulasi di luar negeri, sehingga bagi Kota Bogor hal itu
menjadi kesempatan mengisi ruang tersebut, termasuk salah satunya
keterlibatan Bogor dalam aliansi wali kota se-Asia Pasifik dalam
pengendalian tembakau.

“Saya bersama Wali Kota Balangan, Filipina terpilih sebagai ketuanya.
November ini Kota Bogor akan jadi tuan rumah konferensi pengendalian
tembakau di Asia Pasifik,” kata dia.

Bima menambahkan akan ada bantuan yang masuk ke Kota Bogor untuk
penyelenggaraan konferensi tersebut, sehingga mengakselerasi
program-program pengendalian tembakau yang ada di Kota Bogor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here