BPJS Ketenagakerjaan Bogor Aktif Jaring Pedagang Pasar

219
Sumber Gambar : sitinurmalasari.blogspot.co.id

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS TK) Cabang Bogor,
Jawa Barat, aktif menjaring peserta bukan penerima upah seperti pedagang
pasar, sopir angkot dan pengojek menjadi peserta jaminan perlindungan tenaga kerja.

“Karena pedagang, sopir angkot dan ojek termasuk kelompok beresiko yang
perlu mendapat perlindungan, aktivitas sehari-hari berangkat ke kerja
beraktivitas dijalan memiliki resiko kerja,” kata Kepala Bidang Pelayanan
BPJS Ketenagakerjaan Cabang Bogor Dedi Nugraha kepada Antara di Bogor,
Kamis.

Dedi menjelaskan untuk menjaring lebih banyak pedagang pasar, pengojek dan
sopir angkot masuk sebagai peserta BPJS TK kelompok Bukan Penerima Upah
(BPU), setiap minggu pihaknya turun ke pasar-pasar tradisional untuk
memberikan edukasi mengenai program BPJS TK.

BPJS TK juga mendatangi asosiasi dan komunitas yang menaungi para pengojek
dan sopir angkot untuk memberikan edukasi tentang jaminan keselamatan
kerja.

“Kami turun setiap Sabtu dan Minggu ke pasar-pasar tradisional, kepada
komunitas, dan asosiasi yang ada di Kota Bogor dan sebagain di wilayah
Kabupaten Bogor,” katanya.

Ia menyebutkan beberapa pedagang di sudah banyak menjadi peserta BPJS TK,
mereka kebanyakan mengikuti jaminan untuk kecelakaan kerja, dan kematian,
ada juga yang sekaligus ikut tiga program. Begitu juga dengan sopir angkot
dan pengojek.

Menurutnya edukasi tentang BPJS Ketenagakerjaan yang diberikan kepada
pedagang pasar disesuaikan segmentasinya menggunakan informasi dan bahasa
yang mudah dipahami.

“Seperti misalnya mereka merokok butuh Rp16 ribu per hari untuk sebungkus
rokok. Kalau iuran BPJS TK cuma butuh Rp16 ribu perbulan, dapat jaminan
kecelakaan kerja, dan kematian,” kata Dedi.

Hingga kini BPJS TK cabang Bogor telah memilki 24 ribu kepersertaan dari
segala segmen, pedagang, sopir angkot dan tukang ojeg.

Ia mengatakan menjaringan pedagang pasar, sopir dan pengojek sebagai
peserta BPJS Ketenagakerjaan sudah berlangsung sejak 2015.

BPKS TK memasifkan sosialisasi untuk merangkul seluruh pekerja bukan
penerima upah di Kota Bogor dan sebagian wilayah Kabupaten Bogor, menjadi
peserta jaminan perlindungan tenaga kerja.

“Jaminan perlindungan tenaga kerja ini sudah diatur dalam Undang-Undang
nomor 40 Tahun 2004 dan Undang-Undangan Nomor 25 Tahun 2011 tentang BPJS
dimana seluruh penduduk wajib mengikuti perlindungan,” katanya.

Dengan mengikuti BPJS TK perlindungan yang diberikan meliputi kecelakaan
kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM).

Dedi menambakan kesadaran masyarakat untuk menjadi peserta BPJS TK
terutama kalangan bukan penerima upah cukup tinggi setela adanya
sosialisasi yang masif.

Jajang (40) pengojek di wilayah Ciheulet mendaftar BPJS TK mengaku tenang
setelah mendaftarkan diri sebagai peserta jaminan keselamatan kerja.

“Ini buat masa depan, kalau ada apa-apa dengan saya, anak dan istri saya
bisa tenang,” katanya.

Begitu juga dengan Sulistiati yang mendapat manfaat dari kepesertaan BPJS
TK oleh suaminya Jayadi seorang sopir angkot anggota Koperasi Kauber Kota
Bogor.

“Suami saya wafat 2016 lalu, untungnya dari koperasi sudah mendaftarkan
keanggotaan BPJS, kami menerima santunan kematian Rp24 juta, jadi bisa
buat bekal masa depan anak-anak setelah bapaknya tidak ada,” kata
Sulistiati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here