Ahli: Teluk Jakarta Butuh Restorasi Bukan Reklamasi

273

Ahli oseanografi Institut Pertanian Bogor (IPB) Alan
Frendy Koropitan menilai yang dibutuhkan Teluk Jakarta adalah restorasi,
bukan reklamasi pulau agar perekonomian bisa tumbuh secara berkelanjutan.

Menurut dia, dalam diskusi tentang penyelesaian Reklamasi Teluk Jakarta di
Thamrin School of Climate Change and Sustainability Jakarta, Rabu, kondisi
Teluk Jakarta mirip dengan Chesapeake Bay, Maryland di AS, yang memiliki
fasilitas pelabuhan dengan kondisi padat penduduk.

“Tapi mereka berhasil membangkitkan ekonomi baru setelah mereka
merestorasi Chesapeake Bay. Ekonomi baru yang muncul luar biasa. Saya
yakin tidak kalah dengan ekonominya reklamasi. Maka saya usulkan Teluk
Jakarta ini solusinya bukan (melakukan) reklamasi, tapi restorasi,”
katanya.

Dosen Ilmu dan Teknologi Kelautan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
IPB itu mengatakan wilayah Teluk Jakarta perlu dikembalikan fungsinya
seperti sedia kala agar tumbuh roda perekonomian baru.

Bisnis perikanan tangkap, perikanan budidaya dan pariwisata bisa hidup
kembali dan memiliki nilai berkelanjutan jika wilayah Teluk Jakarta
direstorasi.

“Itu tidak akan secara ekonomi dengan (keuntungan) reklamasi,” katanya.

Alan menegaskan reklamasi sedianya adalah mengembalikan lahan yang
mengalami penurunan muka tanah menjadi daratan yang bisa dimanfaatkan
untuk kehidupan.

Ia menjelaskan berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
(Bappenas) dan Kementerian Lingkungan Hidup pada 2012 disebutkan bahwa
keberadaan 17 pulau reklamasi akan menghambat kecepatan arus.

Kondisi demikian menyebabkan kemampuan teluk untuk mencuci material
sekitar pesisir secara alami akan berkurang. Akibatnya, proses pengenceran
sedimen, logam berat dan bahan organik akan semakin lama.

Kondisi tersebut akan menyebabkan peningkatan sedimentasi di pesisir dan
muara sehingga berpotensi terjadi penyumbatan dan meningkatkan banjir di
daratan.

Selain itu, rendahnya kandungan oksigen di pesisir mengakibatkan aktivitas
bakteri dalam menguraikan limbah organik menurun sehingga terjadi
pembusukan dan meningkatnya kandungan logam berat karena perlambatan arus.

“Perlu kajian mendalam mengenai proyek ini. Memang ini kita sayangkan
karena sudah terlanjur terjadi. Kalau hal ini bisa dipakai di Jakarta, ada
20 lokasi lain di Indonesia yang akan antre melakukan reklamasi. Ini
preseden buruk, kalau di Jakarta bisa, maka tempat lain juga akan
menganggap bisa melakukannya tanpa kajian dalam,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here