12 Ribu Lebih KK di Jatim Dikepung Banjir

134
sumber gambar: https://i1.wp.com/inspiratormedia.id

Sebanyak 15 Kabupaten di Jawa Timur dilanda banjir karena sungai-sungai dan dranaise yang ada tidak mampu mengalirkan aliran permukaan sehingga air merendam di banyak tempat. Data sementra, banjir menyebab lebih dari 12.495 kepala keluarga (KK) terdampak. Sebagian masyarakat mengungsi ke tempat yang ebih aman.

Kepala pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, banjir disebabkan, adanya aktivitas Madden Julian Asrillation (MJO) di Samudera Hindia telah menyebabkan curah hujan tinggi di kawasan Indonesia. 

MJO adalah fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari barat (Samudera Hindia) ke timur dengan membawa massa udara basah.

“Masuknya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ini meningkatkan potensi curah hujan bagi daerah-daerah yang dilalui. Fenomena ini dapat bertahan hingga satu minggu. Selain itu, adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia Barata Sumatera yang membentuk daerah pertemuan angin cukup konsisten di wialayh Sumatera, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Jawa menyebabkan curah hujan meningkat,” katanya dalam pernyataan, Kamis (7/3).

BMKG telah menyampaikan hal ini dan prakiraan bulan berpotensi tinggi untuk daerah-daerah di Indonesia telah disabrkan kepada masyarakat luas. Pada Rab (6/3/2019), curah hujan berintensitas tinggi dan berdurasi lama turun di beberapa daerah sesuai prakiraan BMKG sehingga menimbulkan banjir, longsor dan puting beliung.

Menurut Sutopo, berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Provinsi Jawa Timur, 15 Kabupaten yang mengalami banir adalah Kabupaten Madiun, Nagnjuk, Ngawi, Magetan, Sidaorjo, Kediri, Bojonegoro, Lamongan dan Blitar.

Daerah yang palng arah terlanda banjir adalah Kabupaten Madiun.

Sementara hujan deras yang menyebabkan banjir di Madiun juga menggenangi Jalur Tol Ngawi Kertasono di Madiun, Jawa Timur, mulai Rabu malam (6/3) hingga Kamis (7/3). Genangan air terjadi di beberapa lokasi di sekitar jalan tol, salah satunya di sekitar SS Madiun 9KM 600+000 sd 600+600 B).

Kasat PJR Polda Jatim AKBP Bambang yang berada di lokasi mengaku banjir mulai terjadi oada Rabu petang sekitar pukul 17.00 WIB dimana hujan turun lagi cukup lebat dan pukul 18.00 WIB luapan air mulai menyentuh ROW sekitar KM 603+600 sd 606+000 B, mula-mula kendalaman air satu mata kaki.

“Dalam waktu yang relatif pendek, pukul 19.00 WIB ketinggian air mulai menyentuh reflektor (guide post), yang mana tidak dilalui oleh kendaraan kecil (Gol. D Ketinggian antara 50 hingga 70 centimeter. Akibatnya polisi harus memberlakukan contra flow atau membagi jalur menjadi berlawanan arus agar kendaraan tetap bisa melintas,” kata AKBP Bambang.

Kasat PJR Polda Jatim AKBP Bambang mengaku pihaknya masih akan menuntup jalur tol Ngawi-Kertosono atau yang arah Surabaya menuju Madiun timur ke barat di sisi selatan.

“Sebagai solusinya pihaknya melakukan kontra folow atau merekayasa lalu lintas dengan membagi jalur tol arah Surabaya menjadi dua bagian. Sehingga pegguna jalan tol tetap bisa melintas walau dengan kecepatan sedang. Pihaknya baru akan membuka jalur tol jika arus sudah benar – benar dalam kondisi surut sehingga aman di lalui oleh kendaraan. Itupun dengan syarat tumpukan sampah sisa banir di jalur tol sudah dberishkan,” tandasnya. (Asep Saepudin Sayyev)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, eidis 8 Maret 2019

SHARE

Tinggalkan Komentar