200 Desa Ditetapkan Wilayah Rawan

205
sumber gamabr : https://cdn.medcom.id/

Bencana alam, dari mulai tanah longsor, puting beliung dan banjir mulai menghantui warga Kabupaten Bogor, apalagi ada sekitar 200 desa tersebar di 32 kecamatan sudah ditetapkan sebagai wilayah paling rawan terkena bencana, ketika musim hujan tiba. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengeluarkan himbauan kepada 200 kepala desa, agar mereka meningkatkan kewaspadaan.

“Bencana alam itu tanda-tandanya bisa diprediksi, tapi kapan akan terjadi, ta pernah ada yang tahu. Makanya, sebelum bencana yang tidak diinginkan itu datang, kita tak pernah bosan mengingatkan kepada warga yang tinggal di lokasi rawan bencana, khususnya tanah longsor, agar lebih waspada, ketika hujan deras dengan intensitas tinggi terus mengguyur,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapansiagaan, BPBD, Dede Armansyahm kepada wartawan, baru-baru ini.

Kewaspadaan itu, kata Dese, penting diperhatikan, agar ketika bencana alam datang, tidak menimbulkan korban jiwa, seperti kejadian tahun 2017 lalu. Selain menerbitkan surat himbauan, kata Dede, BPBD pun sebelum musim hujan tiba sudah massif menggelar sosialisasi soal bencana alam dengan target atau sasaran, warga yang tinggal di lokasi rawan bencana alam.

“BPBD itu dibentuk, bukan hanya menangani ketika bencana alam tiba, tapi juga diberikan tugas mengedukasi masyarakat dengan member sedikit pengetahuan, soal tanda-tanda pergeseran tanah yang menjadi cikal bakal dari bencana tanah longsor,” ujarnya.

Saat musim hujan kata Dede, semua personil BPBD, seperti Tim Rekasi Cepat (TRC) disiagkan selama 24 jam, sehingga ketika terjadi bencana mereka siap diterjunkan dengan tugas utama membantu evakuasi korban dan memberikan bantuan. “Kami tak bertugas sendiri, karena ada banyak tim atau reawan yang terlibat, diantaranya unsur TNI/Polri dan Korp Sukareawan dari PMI,” katanya.

Wakil Ketua Korp PMI Kabupaten Bogor, Zainal Syafrudin mengatakan, Korp Relawan PMI sudah disiagakan dan siap dikerahkan kelokasi, saat bencana datang. ” Tim yang akan kita terjunkan semuanya terlatih, tugas utama dan paling pertama yang akan dilakukan mengobati korban bencana,” ujarnya.

Zainal mengatakan, ketangguhan dan kesiapsiagaan para relawan yang tugasnya di Kabupaten Bogor diperlukan, karena dari hasil survey mitigasi bencana, sebagian besar wilayah Kabupaten Bogor ini masuk kategori rawan bencana pergeseran tanah atau biasa disebut tanah longsor.

“Bencana tanah longsor dan sejenisnya terjadi di saat musim hujan tiba, karena sebagaimana kita ketahui bersama, di Kabupaten Bogor ini banyak warga yang mendirikan rumah di tebingan, bahkan ada yang dibawah, Nah, saat musim hujan sangat rentan longsor,” tutupnya. (Mochamad Yusuf)

Sumber : Koran Jurnal Bogor, Edisi 10 Desember 2018

SHARE

Tinggalkan Komentar