Pemkot Bogor Jembatani Kesepakatan Antara Angkot – Ojek Online

1044
Kesepakatan Antara Supir Angkot dan Supir Ojek Online (google images)

Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat menjembatani kesepakatan damai antara awak kendaraan angkutan kota (angkot) dengan ojek `online` atau ojek aplikasi hingga kedua pihak sepakat mulai hari Kamis (23/3) tetap beroperasi.

Kesepatan damai berhasil dicapai setelah perundingan dan proses mediasi panjang berlangsung di Balai Kota Bogor. Hingga Kamis dini hari sekitar pukul 00.20 WIB, Wali Kota Bima Arya Sugiarto menyebarkan video hasil kesepakatan damai antara kedua pihak moda transportasi itu.

Selain video, Bima juga membagi foto kesepatan damai yang ditandai penandatangan perjanjian damai antara pengendara ojek online dan sopir angkot. Di dalam foto tersebut terdapat Wali Kota Bima Arya Sugiarto diapit dua koordinator ojek online di sisi kanan dan koordinator sopir angkot di Terminal Laladon di sisi kiri, Wakil Ketua Organda Kota Bogor di
kanan, lalu Kapolresta Bogor Kota dan Dandim 0606/Kota Bogor serta perwakilan Gojek di sisi kiri.

“Alhamdulillah kesepakatan damai dicapai,” kata Bima dalam pesannya melalui grup whatsapp Pemkot Bogor.

Bima menjelaskan, ada empat poin kesepakatan damai yang dicapai di antaranya, pertama kedua belah pihak sepakat untuk menjaga kondusivitas Kota Bogor. Kedua pihak saling menghormati dalam menjalankan usaha.

Ketiga, menyerahkan permasalahan yang terjadi kepada aparat penegak hukum, dan keempat teknis tentang operasional `online` akan dibicarakan secara bertahap.

“Jam 15.00 (sore nanti) Muspida Kota Bogor akan rapat koordinasi dengan Muspida Kabupaten di pendopo Bupati,” kata Bima.

Bima juga memastikan, setelah kesepakatan damai dicapai, kedua belah pihak yakni sopir angkot dan ojek `online` bersepakat untuk tetap beroperasi normal.

“Khusus online sementara ini tetap tidak gunakan atribut,” katanya.

Menurutnya, solusi dalam persoalan angkot dan ojek `online` masih harus dikoordinasikan di lapangan. Masih ada proses yang belum selesai terkait adanya angkot trayek 02 (Bubulak-Sukasari) yang dirusak saat aksi kericuhan di Terminal Laladon.

“Tapi setindaknya inilah (kesepakatan damai-red) ikhtiar kita untuk mendinginkan situasi saat ini, dan usahakan warga tetap terlayani,” kata Bima.

Untuk mengantisipasi jika masih terjadi aksi mogok para supir angkot, lanjut Bima, Pemerintah Kota Bogor tetap antisipasi dengan menyiapkan seluruh armada mobil dinas baik milik pemerintah kota, Satpol PP, Polisi dan TNI.

“Tadi saya kumpulkan semua kepala dinas, camat dan BUMD, seluruh `standby` besok,” katanya.

Sebekumnya, kericuhan terjadi antara sopir angkot dan pengendara ojek `online` di Terminal Laladon, Rabu (22/3) petang. Terjadi aksi saling serang diantara keduanya dengan cara saling melempar batu dan menggunakan kayu. Para pengendara ojek `online melakukan pengerusakan sejumlah angkutan baik yang beroperasi di wilayah Kabupaten maupun Kota Bogor.

Kericuhan berawal adanya informasi sweeping atau penyisiran yang dilakukan kedua belah pihak, sementara itu rombongan pengendara ojek `online` yang didominasi Grab bergerak dari arah Dramaga dengan tujuan ke Balai Kota Bogor untuk mengonfirmasi terkait kecelakaan yang dialami pengendara ojek `online` sekaligus kejelasan aturan angkutan.

Diperjalanan menuju Balai Kota, tepatnya di Terminal Bubulak terjadi pelemparan, berujung pada kebringasan pengendara ojek `online` yang melakukan penyerangan balik hingga ke Terminal Laladon.

Bentrok antara kedua pihak terjadi selama hampir satu jam, hingga petugas keamanan turun mensterilkan lokasi. Setelah itu, ratusan pengendara ojek `online` bergerak ke Balai Kota Bogor. Sejak sore hingga malam, terjadi proses mediasi, hingga akhirnya disepakati perjanjian damai di antara dua belah pihak yang diwakili oleh masing-masing koordinator juga disaksikan oleh Organda, Kapolresta dan juga Dandim 0606/Kota Bogor.  (Antara)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here