Menkes Minta RS Langsung Tangani Pasien Gawat Darurat

1250
Sumber Gambar : setkab.co.id

Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengingatkan bahwa rumah
sakit harus mau menolong pasien yang berada dalam kondisi gawat darurat
dan tidak mengutamakan administrasi terlebih dahulu.

“Dalam keadaan gawat darurat sudah ada UU-nya tidak usah memperhitungkan
dulu anggaran atau biaya,” kata Menkes Nila di Sekolah Tinggi Ilmu
Kepolisian (STIK), Jakarta, Senin, menanggapi kasus meninggalnya bayi
Debora di RS Mitra Keluarga Kalideres.

Meski demikian pihaknya belum mengetahui tindakan yang sudah dilakukan
pihak RS dan kondisi sebenarnya dari bayi Debora saat masuk ke RS Mitra
Keluarga Kalideres, Jakarta Barat.

“Melihat dari apa yang dijawab RS, mereka telah menolong. Kita juga harus
tahu sejauh mana kondisi penyakit anak tersebut. Itu yang harus kita
lihat,” katanya.

Pihaknya telah mengutus beberapa pihak dari Kemenkes untuk melakukan
investigasi ke RS tersebut.

“Hari ini saya minta dari Dinkes Provinsi, Kemenkes dan Badan Pengawas
akan pergi ke rumah sakit,” katanya.

Ia memastikan bahwa kronologi kejadian yang sesungguhnya akan diketahui
setelah pihaknya mendalami keterangan dari berbagai pihak.

“Nanti kami konfirmasi ketepatannya, mana yang benar, mana yang enggak
benar. Sementara itu dulu. Hari ini kita akan dapatkan informasi dan
klarifikasinya,” katanya.

Tiara Debora, bayi mungil berusia empat bulan, putri kelima pasangan Henny
Silalahi dan Rudianto Simanjorang, warga Jalan Jaung, Benda, Tangerang tak
dapat diselamatkan Minggu (3/9), meski kedua orang tuanya telah membawanya
ke Rumah Sakit Mitra Keluarga Kalideres.

Sebelumnya, Debora sudah seminggu terserang flu disertai batuk. Ibundanya,
Henny, sempat membawanya ke RSUD Cengkareng untuk pemeriksaan. Dokter di
sana kemudian memberinya obat dan nebulizer untuk mengobati pilek Debora.
Namun kondisi Debora semakin parah Sabtu (2/9) malam.

Ia terus mengeluarkan keringat dan mengalami sesak napas. Kedua orang tua
Debora pun membawanya ke RS Mitra Keluarga Kalideres dengan menggunakan
sepeda motor. Tiba di rumah sakit, dokter jaga saat itu langsung melakukan
pertolongan pertama dengan melakukan penyedotan (suction).

Memperhatikan kondisi Debora yang menurun, dokter menyarankan dirawat di
ruang pediatric intensive care unit (PICU). Dokter pun menyarankan orang
tua Debora untuk mengurus administrasi agar putrinya segera mendapatkan
perawatan intensif.

Namun, karena RS tersebut tak melayani pasien BPJS, maka Rudianto dan
Henny harus membayar uang muka untuk pelayanan itu sebesar Rp19.800.000.
Namun Rudianto dan Henny hanya memiliki uang sebesar Rp 5 juta dan
menyerahkannya ke bagian administrasi.

Ternyata uang tersebut ditolak, meski Rudianto dan Henny telah berjanji
akan melunasinya segera. Pihak RS sempat merujuk Debora untuk dirawat di
rumah sakit lain yang memiliki instalasi PICU dan menerima layanan BPJS.

Setelah menelpon ke sejumlah RS, Rudianto dan Henny tak juga mendapatkan
ruang PICU kosong untuk merawat putrinya. Kondisi Tiara Debora terus
menurun hingga akhirnya dokter menyatakan bayi ini meninggal dunia.

Rudianto dan Heni sangat terpukul atas meninggalnya Debora. Mereka tak
terima dengan perlakuan pihak rumah sakit terhadap putri mereka.

Usai mengurus administrasi rumah sakit, Rudianto dan Henny membawa pulang
jenazah putrinya menggunakan sepeda motornya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here