Kebun Raya Bogor Hadapi Permasalahan Rayap

1272
sumber gambar : okezone.com

Upaya pelestarian dan perlindungan pohon-pohon yang
tersimpan di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat menghadapi tantangan berat,
salah satunya keberadaan rayap.

“Masalah utama yang kami hadapi di sini (Kebun Raya) adalah rayap,” kata
Kepala Subbagian Kerja sama dan Informasi Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT)
Kebun Raya Bogor-LIPI Rosniati Apriani Risna, kepada Antara di Bogor,
Rabu.

Risna menjelaskan PKT Kebun Raya Bogor-LIPI memiliki 600 spesimen yang
berusia di atas 100 tahun, dan 3.000 spesimen di atas 50 tahun.

Total koleksi kebun raya tertua di Asia Tenggar tersebut hingga awal
Januari tercatat sebanyak 12.531 spesimen nonanggrek yang terdiri atas 214
suku, 1.210 marga, dan 3.228 jenis tanaman. Sedangkan, koleksi anggrek
Kebun Raya Bogor mencapai 9.682 spesimen, terdiri atas 589 jenis anggrek
dari 106 marga.

Ia mengatakan PKT Kebun Raya Bogor-LIPI mempunyai beberapa perlakuan
terhadap rayap. Ada yang menggunakan teknik pengumpan, agar rayap tidak
menyerang pohon.

“Jadi rayapnya tidak lari ke pohon, tapi ke umpannya,” ucapnya.

Teknik pengumpan ini dilakukan di beberapa tempat di area Kebun Raya
Bogor, seperti di lokasi Astrid dinilai cukup efektif mencegah rayap
menyerang pohon secara langsung.

“Jadi populasi rayap yang mengerang pohon jadi berkurang. Perlakuan ini
sudah ada penelitiannya,” tutur Risna.

Menurut Risna, pohon yang berayap merupakan peristiwa alami dan normal
terjadi. Karena pohon memang makanan rayap, selain itu salah satu proses
keseimbangan alam.

Perayapan juga terjadi di hutan, hanya saja pohon tumbang karena rayap
tidak terlalu berisiko, populasi rayap terkendali oleh keseimbangan alam.

Berbeda dengan Kebun Raya Bogor yang merupakan hutan buatan, berada di
tengah kota, memerlukan intervensi atau campur tangan dari peneliti untuk
menjaga keseimbangan alam, dan mengendalikan populasi rayap.

“Perlu ada campur tangan kita, kalau dibiarkan saja, semua pohon di sini
bisa hancur karena rayap,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, intervensi yang dilakukan tidak serta merta
membunuh langsung semua rayap. Karena walau peranan sebagai pengrusak,
tetapi rayap juga sebagai dekomposit alami. Menjadi makanan bagi tanaman
lainnya.

Campur tangan yang dilakukan dalam menjaga kesimbangan rayap di alam.
Dengan umpan rayap, meracuni mereka, bukan racun sistemik. Tapi rancun
yang akan menghambat pertumbuhan rayap satu siklus.

“Jadi ada siklus yang terputus, teknik meracuni ini membuat populasi rayap
tidak efektif,” tuturnya, mnejelaskan.

Risna menyebutkan sejak 2015 PKT Kebun Raya Bogor-LIPI telah memiliki alat
untuk mengukur kesehatan pohon dari kekeroposan yang dapat terlihat dari
luar. Alat tersebut bernama sonixtomografi, cara kerjanya sepertu USG.

“Penggunaannya cukup dengan memukur pohon tersebut, lalu alat akan bekerja
dan menampilkan melalui layar komputer. Kita akan tahu apakah pohon sudah
berlubang, berapa banyak lubangnya dan panjannya. Data ini kita teruskan
kepada manajemen pohon, untuk dilakukan pemangkasan atau penebangan,”
paparnya.

Risna menambahkan perawatan pohon-pohon di Kebun Raya Bogor memakan biaya
cukup besar, seperti untuk pemangkasan, penebangan, pemupukan, hingga
pemeriksaan.

“Ada satu pohon yang posisinya miring, untuk meyanggahnya dipasang baja
senilai Rp10 juta,” kata Risna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here