Target Menekan Emisi 2 Gigaton Bisa Gagal

387
sumber gambar : sbcd.org

Hasil penelitian World Resources Institute (WRI) Indonesia
terbaru menunjukkan dengan kebijakan pemerintah seperti saat ini maka
target menekan emisi karbon dioksida (CO2) sehingga tidak melewati 2
gigaton pada 2030 bisa gagal.

Senior Manajer Iklim dan Hutan WRI Indonesia Arief Wijaya di Jakarta,
Kamis, mengatakan berdasarkan analisis kuantitatif menunjukkan bahwa upaya
kebijakan yang dilaksanakan seperti saat ini hanya dapat mengurangi emisi
menjadi sekitar 2,3 gigaton CO2, melampaui target nasional yang menetapkan
emisi sebesar 2 gigaton pada 2030.

Meskipun berbagai langkah nyata telah diupayakan, berdasarkan penelitian
yang dilakukan WRI Indonesia, menurut dia, menunjukkan bahwa potensi
mitigasi CO2 dari kebijakan dan peraturan nasional di sektor lahan dan
energi yang di dalamnya termasuk kebijakan moratorium perizinan konsesi di
hutan dan lahan gambut, restorasi lahan gambut, target bauran energi
terbarukan, perhutanan sosial, serta rehabilitasi lahan hutan yang
terdegradasi belum cukup untuk mencapai komitmen iklim Indonesia.

Kebijakan moratorium hutan Indonesia, ia mengatakan memang menjadi potensi
mitigasi terbesar secara keseluruhan. Namun demikian, jika kebijakan ini
diteruskan hingga 2030 dan dilaksanakan tidak saja hanya di hutan primer
dan lahan gambut, melainkan menyertakan hutan sekunder dan menghentikan
izin konsesi yang telah dikeluarkan di kawasan hutan maka penurunan emisi
CO2 akan semakin besar.

Berdasarkan penelitian, menurut dia, penghentian pembukaan dan konversi
hutan primer dan lahan gambut dapat menghindari 188 juta metrik ton emisi
CO2 terlepas pada 2030. Sedangkan jika moratorium diperkuat hingga ke
hutan sekunder dan konsesi yang telah dikeluarkan dari kawasan hutan maka
potensi pengurangan emisi dapat berlipat ganda mencapai 427 juta metrik
ton emisi CO2 pada 2030.

“Saat ini pemerintah masih fokus ke sektor lahan. Tapi sebenarnya dari
hasil penelitian ini menunjukkan pemerintah harus lebih bijaksana, agar
sektor energi diperhatikan karena kurang dari 15 tahun akan menjadi sumber
terbesar emisi,” lanjutnya.

Menurut the Forest and Climate Program Officer at WRI Indonesia Hanny
Chrysolite, dalam satu dekade ke depan dominasi emisi akan berasal dari
sektor energi. Dan di 2026, energi dari sektor ini akan cenderung terus
meningkat, sedangkan sektor lahan dengan adanya moratorium yang
dilanjutkan akan stagnan.

Penambahan jumlah penduduk, menurut dia, menjadi salah satu faktor yang
diperkirakan menyebabkan peningkatan emisi sektor energi.

Sementara itu, Manajer Energi dan Iklim WRI Indonesia Almo Pradana
mengatakan target penurunan emisi dengan 23 persen bauran energi sektor
energi masih sulit dilakukan karena masih fokus pada batu bara. Sedangkan
upaya konservasi energi seharusnya dapat dilakukan dengan mengganti
pembangkit listrik yang tua dengan yang advance.

Bappenas, menurut dia, mencatat karena transportasi belum “electric base”
Maka konsumsi energi akan terus tinggi. Konservasi energi yang perlu
dilakukan contohnya dengan membatasi usia kendaraan bermotor, semua
peralatan rumah tangga dibuat standar rendah emisi, hingga bangunan perlu
didesain ramah lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here