Berasal dari laut, mengapa air hujan tak asin?

938

Sejak Sekolah Dasar, kita pasti pernah diajarkan tentang proses terjadinya hujan. Seluruh air yang ada di bumi bermuara kelaut, kemudian menguap membentuk awan hingga awan lembab dan semakin memberat, tertiup angin lalu turunlah hujan. Begitu kira-kira cerita singkatnya (versi pemahaman anak SD)
Timbul pertanyaan ‘menggelitik’
“Jika semua air hujan berasal dari laut,.. laut itu rasanya asin. Homogen!. Semua air laut rasanya asin. Lantas mengapa air hujan rasanya tawar? bahkan menyegarkan??” SK (Syarat dan Ketentuan : Jika atmosfernya bersih dari polusi!!)
Saat mengajar di sekolah tentang pemisahan campuran (Inilah salah satu berkahnya menjadi Guru #semakin kaya dengan hikmah, Insha Allah). Salah satu pemisahan campuran secara fisika yaitu dengan penguapan. Contoh paling mudah yaitu memisahkan campuran air garam dengan cara diuapkan (dipanaskan). Dapat dijemur, atau dipanaskan dengan api di atas cawan penguap. Maka, air akan menguap dan garam akan tertinggal. Prinsipnya adalah “Titik didih”!. Contoh lain, seperti pemisahan dengan cara destilasi (berdasarkan perbedaan titik didih) sehingga kita bisa memisahkan atau memurnikan campuran larutan yang berbeda titik didihnya. So, oleh karena itu titik didih dapat dijadikan salah satu identitas fisik (sifat fisika) suatu zat. Yups, get the Answer!!. Perbdaan titik didih
“ Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.”
(Q.S. Ar-Ra’du (13) ayat 17)
“..adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi” >>> Prinsip pemisahan berdasarkan titik didik didih.
Air titik didihnya 100 °C sedangkan garam (Natrium Klorida) 1465 °C (1738 K). Perbedaan yang sangat tinggi. Subhanallah, Allah memberi sinar matahari dengan jarak yang sangat pas, sehingga energi kalor yang dihasilkan tepat untuk bisa menguapkan air (100 oC). Terbayang jika jarak matahari lebih dekat, mungkin air akan sangat cepat habis (menguap) dan beberapa material lain yang dibutuhkan manusia ikut menguap juga. Juga apa yang terjadi jika jara matahari lebih jauh… “Adakah yang dapat mengatur semua se-presisi ini??” Allohu Akbar..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here