Fakta-fakta Cokelat yang Nggak Diketahui Banyak Orang

456

Siapa sih yang nggak tahu cokelat? Ya, makanan yang satu ini memang memiliki banyak fans seantero dunia. Mulai dari anak kecil sampai kakek-nenek sekalipun, pasti tahu yang namanya cokelat. Cokelat juga bagaikan sebuah solusi yang mampu ngatasin berbagai masalah, lho…
Contoh, kalau cewek ngambek dikasih apa? Ya, cokelat. Kalau cowok mau nembak cewek, biasa dikasih apa? Ya, cokelat juga. Kalau anniversary, makanan wajib yang harus ada apa? Tentunya cokelat.
Cokelat ini bisa jadi “moodbooster” di kala sedih, bahkan senang. Tapi, kamu tau nggak, sih, kenapa cokelat bisa nyebabin semua itu? Berikut adalah fakta-fakta cokelat yang jarang diketahui orang

 
1. Kecanduan coklat, mitos atau fakta?

 

 
Orang yang ketagihan pada cokelat disebut chocoholic. Namun, apakah chocoholic ini menandakan bahwa mereka kecanduan pada cokelat?
Ketergantungan atau kecanduan melibatkan 3 komponen penting yaitu adanya keinginan yang intens, kehilangan kontrol atas objek yang diinginkan serta terus menerus mengonsumsi meski efeknya buruk.
Studi awal menemukan bahwa seseorang bisa menunjukkan 3 hal ini pada makanan. Selain itu banyak orang yang bisa terpicu nafsu makannya ketika melihat atau mencium bau makanan meski baru saja makan.
Umumnya makanan yang bisa menyebabkan ketagihan adalah tinggi lemak serta tinggi karbohidrat, dan cokelat diketahui mengandung gula serta lemak yang sering digunakan dalam studi ketagihan makanan.
Studi yang diterbitkan dalam Archives of General Psychiatry menemukan ketika seseorang diberikan bau atau melihat minuman cokelat maka bagian otak yang mengatur hasrat menjadi aktif. Ketika diminum maka aktivitas otak di daerah tersebut berkurang, pola ini ditemukan pula pada orang yang kecanduan.
Kecanduan makanan umumnya tidak sebahaya kecanduan narkoba atau alkohol, tapi tetap memiliki efek samping seperti obesitas dan kehilangan kontrol makan yang bisa menjadi faktor risiko dari beberapa penyakit. Untuk itu harus ada batasan dalam mengonsumsinya agar tidak menimbulkan efek buruk.
Jadi, guys. Kecanduan pada cokelat itu memang benar adanya dan bisa saja kita alami.

 
2. Aroma cokelat punya efek penenang

 

 
Selain dimakan, cokelat ternyata bisa dirasakan manfaatnya dengan cara menghirup aromanya. Hal ini dikarenakan aroma cokelat dapat membantu memicu produksi hormon endorfin.
Hormon endorfin adalah zat kimia seperti morfin yang diproduksi sendiri oleh tubuh. Endorfin memiliki efek mengurangi rasa sakit dan memicu perasaan senang, tenang, atau bahagia. Hormon ini diproduksi oleh sistem saraf pusat dan kelenjar hipofisis.
Pada dasarnya, cokelat memang membawa dampak baik di bidang kesehatan. Namun sebaik-baiknya makanan tersebut, tentunya perlu juga membatasi dalam mengonsumsinya. Karena sesuatu yang berlebihan itu, tidak akan baik bagi tubuh.

 
3. Cokelat dapat merangsang hormon Dopamin dan Serotinin

 

 
Hormon dopamin dan serotinin adalah dua hormon kebahagiaan yang diproduksi oleh otak. Umumnya, hormon ini dihasilkan secara alami oleh tubuh. Eitss, tapi jangan salah. Hormon ini ternyata juga bisa dirangsang dengan cara mengonsumsi cokelat dengan kandungan phenylethylamine. Zat inilah yang merangsang pembentukan hormon dopamin. Selain itu, phenylethylamine juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan seperti orang sedang jatuh cinta (hati berbunga).
Inilah alasan mengapa mengonsumsi cokelat bisa meningkatkan mood, sehingga yang tadinya galau karena patah hati bisa jadi semangat lagi menjalani aktivitas sehari-hari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here