OPM Diburu Sebut Tak Butuh Jalan Trans-Papua, Namun Kemerdekaan

45
sumber gamabr ; https://1.bp.blogspot.com

Egianus Kogoya mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap 31 pekerja proyek jalan. Kogoya adalah pimpinan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang kini mengeluarkan pernyataan tak butuh jalan Trans-Papuan yang dibangun pemerintah Indonesia, namun kemerdekaan.

Dalam siaran persnya, OPM berdalih, hal yang mereka lakukan bukalan tindakan kriminal, melainkan bagian perjuangan pembebasan Papua dari Indonesia. Mereka bahkan menyebut Indonesia sebagai negara kolonial.

“Kami menyampaikan kepada negara kolonial Indonesia bahwa kami berjuang, bukan KKB, KKSB, dan lain-lain. tetapi amu adalah pejuan sejati untuk kebebasan republik West Papua,” kata Juru Bicara OPM, Sebby Sambom, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/12).

Sebby mengklaim, OPM dan rakyat Papua tak membutuhkan jalan trans-papua seperti yang dikerjakan sekarang, maupun pembangunan dalam bentuk lain. “Namun solusi masalah Papua adalah sebagai bangsa yang beradab.”

Dia mengingatkan juga kepada TNI dan Polri agar tidak menyerang warga sipil di sembarang tempat di Papua. Sebab medan peran dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) ada di Distrik Dal Yigi dan lainnya.

Peringatan Sebby itu menyusul operasi militer udara yang dilancarkan TNI dan Polri di Kenyam, Kabupaten Nduga, pada 4 Desember. TNI-Polri, katanya, bahkan sampai mengerahkan empat helikopter TNI Angkatan Udara dan satu helikopter Polri.

Dalam serangan udara itu, kata Sebby, TNI menjatuhkan bom peledak kapasitas besar namun dua di antaranya tak meledak dan dua yang lain meledak di udara. Artinya, katanya tak satupun bom yang dijatuhkan itu menyentuk tanah, apalagi melukai milisi TPNPB. Selain itu, Sebby mengklaim, aparat Polri mengerahkan 24 kendaraan truk pikap untuk memobilitasi pasukan gabungan untuk memburu militasi TPNPB.

Pada pokoknya, dia menegaskan, OPM dan TPNPB bersiap melawan TNI dan Polri, sekaligus menolak pembangunan dalam bentuk apa pun di tanah Papua. “Kami tidak butuh pembangunan oleh pemerintahkolonial RI; Kami hanya ingin kemerdekaan penuh,” ujarnya.

“Oleh karena itu.” katanya, “semua pembangunan infrastruktur segera hentikan, dan segera lakukan perundingan antara wakil TPNPB-OPM dan pemerintah RI untuk menentukan masa dengan bangsa Papua,”

Sementara Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih Kolonel Infantri Muhammad Aidi mengatakan, TNI bersama Polri telah menerjunkan Satgas Penegakan Hukum untuk memburu.

OPM pimpinan Egianus Kogoya. Ia menegaskan operasi ‘pembunuhan’ saat ini sudah dilakukan oleh Satgas Gakkum yang merupakan personel gabungan TNI-Polri tersebut. “Sejauh ini sudah berjalan operasi penegakan hukum,” kata Aidi, Rabu (5/12).

Satgas Gakkum ini dibentuk sekitar dua bulan lalu, ketika rentetan peristiwa teror dan serangan peristiwa teror dan serangan dilakukan oleh KKB. Satgas ini diisi oleh kekuatan gabungan dari personel Polda Papua dan Kodam Cendrawasih. “Sudah berjalan sejak rentetan kejadian pembantaian yang dilakukan oleh KKSB itu kita sudah membenruk Satgas Penegakan Hukum. Nah itu sedang berlangsung sampai sekarang,” kata dia.

“Sejak peristiwa pembantaian warga sipil di Nduga, ada warga sipil dibantai termasuk anaknya, ada pesawat Trigana Air ditembaki, lalu menyusul ada kejadi di Mapenduma, nah di situlah kita bentuk Satgas Gakkum,” kata Aidi.

Egianus Kogoya selama ini punya riwayat ‘gelap’ di Papua. Dari catatan yang ada, kelompok ini selalu melancarkan aksinya di wilayah Nduga. Sepanjang 2018 ini, ebelum pembantaian para pekerja proyek jembatan di Distrik Yigi dan serangan ke Pos Yonif 755/Yalet, setidaknya sudah ada beberapa serangan lain yang mereka lancarkan. Di antaranya penembakan di Bandara Kenyam, Nduga pada 25 Juni, serta penyekapan dan kekerasan seksual terhadap belasan guru dan paramedis di Distrik Mapenduma, Nduga pada 3-17 Oktober. Jauh sebelumnya keompok Egianus juga ditengarai menjadi otak penyerangan terhadap pekerja Trans Papua di Kecamatan Mugi pada 12 Desember 2017. (Asep Saepudin Sayyev)

Sumber : Koran Jurnal Bogor, Edisi 6 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here