Ruang Rawat Inap Bisa Dibooking

45
sumber gambar : https://img.beritasatu.com

Pasien Terlantar di IGD

Pelayanan kesehatan di Kota Bogor kembali dipertanyakan. Adalah Siti Khodijah (48), pasien BPJS PBI asal Kampung Kelapa Tiga, Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sereal. Ia mengeluh lantaran harus menunggu selama berjam-jam untuk mendapat tempat tidur rawat inap saat berobat ke RS Islam, Selasa (4/12).

Keluarga pasien, Desi Arsanti mengatakan bahwa keluarganya mesti mengalah lantaran ruangan telah dibooking pasien lain. Menurutnya, ia bersama Khodijah datang ke RS Islam sejak pukul 14:00 WIB, dan pasien diperiksa di IGD.

“Karena sudah nunggu lama. Iapun memberanikan diri mengecek langsung ke ruangan kelas 3, ternyata ada satu tempat tidur nomor 11 yang kosong. Ketika balik lagi ke UGD, pihak rumah sakit bilang bahwa ruangan kelas 3 sudah penuh. Sedangkan ruang yang kosong untuk pasien datang lebih dulu,” katanya epada wartawan, Selasa (4/12).

Seharusnya, sambung dia, ketika tempat tidur pasien kelas 3 kosong, bisa ditempatkan sementara di kelas 2, saat di cek ruang untuk kelas 2 ada empat tempat tdur yang kosong. Tetapi dari pihak perawat beralasan bahwa satu tempat tidur laki-laki kosong, dua tempat tidur perempuan denga alas sedang di perbaiki dan satu sudah dibooking pasien lain, ini kan aneh,” katanya.

Mendengar adanya aduan masyarakat terkait hak itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Bogor, Atty Somaddikarya langsung mendatangi lokasi. “Yang namanya rumah sakit harus mengedepankan sisi kemanusiaan. Apalagi ada bahasa tempat tidur sudah dibooking,” katanya.

Padahal, sambung Atty, saat di cek kelas 3 dan 2 masih ada kamar yang kosong, “itu dibuktikan oleh keluarga pasien. Harusnya masyarakat bisa dilayani secara maksimal. Mestinya ketika kelas 3 penuh, kelas 2 kosong sang pasien bisa dititipkan terlebih dahulu. Baru nanti dipindahkan lagi,” jelasnya.

Atty menegaskan bahwa rumah sakit bukanlah hotel yang berorientasi pada keuntungan semata. “Rumah sakit itu untuk memperjuangkan nyawa seseorang. Saya prihatin dengan kondisi yang terjadi. Kita cek ruangan di kelas dua masih ada yang koosng. Yang katanya sedang dicat oleh pihak rumah sakit ternyata tidak ada bekasnya, ini kan aneh seharusnya penangan pertama harus diutamakan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Atty meminta agar ruma sakit transparan terkait jumlah kamar yang kosong dan yang penuh. “Harus transparan jangan sampai pasien merasa dipingpong,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Direktur RS Islam Dewi Wiyana membantah bahwa pihaknya menahan pasien untuk tidak masuk ke dalam kelas 2. “Ruangan itu sedag dicat ulang dan diperbaiki yang bocor. Jadi saat ada yang kosong langsung direnovasi. Sebab, yang namanya rumah sakit 7 hari 24 jam selalu penuh,” jelasnya.

Disinggung mengenai ruangan yang teah dibooking. Dewi menegaskan bahwa hal itu terjadi karena ada jadwal operasi atau tindakan hemodialisa. “Jadi sudah dijadwalkan sebelumnya. Kalau terkait kapan pasien masuk, itu tergantung dari pasiennnya,” katanya.

Yang pasti, sambungnya, apabila kamar penuh, pasien bisa dirujuk ke tempat kosong, “Prosedurnya alau sudah enam jam di IGD, belum ada ruangan bisa ditujuk ke ruangan lain,” ucapnya.

Menurutnya, RS Islam memiliki ruangan kelas 2 sebanyak 14 unit, dan persatu ruangan mempunya dua tempat tidur. Sedangkan kelas 3 memiliki 30 tempat tidur. “Sebenarnya kami mau menambah ruangan kelas 3, tapi terkendala lahan serta izin,” ucanya. (Fredy Kristianto)

Sumber : Koran Jurnal Bogor, Edisi 5 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here