Terlalu Mengontrol Anak Berbahaya

59
sumber gambar : https://cdn.hellosehat.com/wp-content/uploads/2016/09/lakukan-ini-jika-kelepasan-membentak-anak.jpg?x54339

Orang tua kadang bersikeras mengedalikan anaknya dan ingin terhat semua kegiatan buah hati, mulai dari sekolah, les, hingga latihan sepak bola. Mereka ingin anaknya selalu unggul dan kompetitif di seluruh bidang.

Sebuah studi dalam Journal of Child and Family Studies menemukan, mendaftarkan anak dalam banyak kegiatan ekstrakulikuler tak menjamin anak lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih sukses. Anak terlalu bergegas dari aktivitas satu ke aktivitas berikutnya yang kerap meleahkan, menguras tenaga dan uang.

Dikutip dari Verywell Family, bahaya terhadap anak dibatasi. Orang ua kadang memilihkan sendiri kegiatan apa yang bagus untuk anak-anaknya tanpa menanyakan serius keinginan anak sesungguhnya. Buah hati seharusnya dibiarkan mengeksplorsi minat bakatnya. Anak perlu dibiarkan memecahkan masalah sendiri, sebelum dibantu ornag tua.

Anak yang biasa dikontrol orangtua justru mudah merasa jika suatu ketika orang tua tak berada di sampingnya. Ini karena anak terbiasa bertanya dan meminta saran dari orang tua, serta tak biasa mencari solusi sendiri.

Orang tua yang terlalu mengontrol anak justru cenderung memiliki anak-anak yang gugup. Ketimbang terus membayangkan hal-hal buruk terjadi pada anak, usahakan memberi mereka kebebasan untuk menjadi anak-anak.

Jika anda terus memnatau setiap langkah anak, anak mungkin akan takut membuat kesalahan. Padahal kesalahan bisa menjadi pelajaran hebat dan membantu anak berani menghadapi kegagalan.

Anak yang terlalu dikontrol rang ta mungkin berpikir berbuat salah itu buruk. Dia pun mencoba menutupi kesalahan yang dilakukan.

Ajari anak berbuat salah itu normal. Bicarakan pentingnya bertanggung jawab atas perilaku dan tunjukkan paanya yang namanya manusia pasti pernah berbuat alah.

Anak-anak yang terlalu dikendalikan orang tua berisiko tnggi memiliki masalah kesehatan mental Depresi dan kecemasan dapat terjadi ketika orang tua menuntut anak patuh dan anak ta memiliki kebebasan mengekspresikan diri.

Studi yang diterbitkan Journal Social and Clinical Psychology menemukan anak-anak dengan orang tua yang suka mengontorl tak bsa berjuang menghadapai kecemasan dan stres saat beranjak dewsa. (Asep Saepudi Sayyev)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 21 Desember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here