Aceh – Jakarta Buat Paspor

95
sumber gambar : http://kharisma-woman.de

WARGA Aceh banyak yang membuat paspor untuk pergi ke Jakarta akibat kenaikan harga tiket pesawat – Jakarta harus transit terlebih dulu ke Kuala Lumpur Malaysia dan lebih mahal jika melakukan penerbangan langsung. Kepala Seksi Lalu Lintas Keimigrasian Kantor Iigrasi Kelas I Banda Aceh, Muhammad Hatta membenarkan adanya lonjakan pembuatan paspor, yang dimulai sejak awal Januari 2019 lalu.

“Permohonan paspor Aceh dapat dikatakan Imigrasi Kelas I Banda Aceh dapat dikatakan terjadi kenaikan, hal ini salah satu disebabkan karena faktor keinginan dari masyarakat untuk transit di satu negara dari sebelum menuju ke dalam negeri yang merupakan negera tujuannya,” atanya, Minggu (13/1).

Ia menilai, fenomena ini ditambah dengan lonnjakan kenaikan harga tiket untuk penerbangan langung tanpa transit, sehingga mayarakat mengajukan permohonan pembuatan paspor di Kantor Imigrasi agar bisa mendapat tiket yang lebih murah. Tentunya harus transit terlebih dulu di Kuala Lumpur.

Selama Januari ini, kata dia, pihaknya sudah menerbitkan paspor sekitar lebih 200 buku. “Yang kita keluarkan mencapai 200 buku dan bisa mencapai lebih, dan ini berbeda lagi dengan layanan priortas seperti lansia, bayi, dan orang-orang yang punya kebutuhan khusus,” imbuhnya.

“Pada saat proses wawancara petugas menanyakan rata-rata mengunjungi keluarga yang ada di Malaysia dan fenomena ini juga terjadi yang diluar perkiraan kami. Jadi masyarakat mengatakan transit di Kuala Lumpur untuk selanjutnya kembali ke Tanah Air ada yang untuk keperluan dagang, dan melanjutkan pendidikannya kembali,” kata Muhammad Hatta.

Dari situs Traveloka, harga tiket pesawat dari Aceh ke Pulau Jawa mengalami kenaikan. Misalnya keberangkatan pada hari Senin, 14 Januari 2019 dari Banda Aceh ke Jakarta lebih mahal dari pada harus transit via Kuala Lumpur. Seperti maskapai Air Asia. Harga tiket Aceh-Jakarta hanya Rp 1.058.800. Namun harus transit di Kuala Lumpur selama 5 jam setelah itu dilanjutkan kembali ke Jakarta.

Sementara unutk enerbangan langsung via Batik Air, harga tiket Aceh-Jakarta mencapai Rp 2.768.000. Begitupun dengan maskapai Garuda Indonesia, harga tiket Aceh-Jakarta sebesar Rp 2,9 juta untuk sekali jalan tanpa transit. Hal itulah yang membuat sebagian warga Aceh yang ingin ke Pulau Jawa lebih memilih transit di Kuala Lumpur ketimbang memilih penerbangan langsung.

Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Asrizal Asnawi mengkritik Kementrian Perhubungan yang tidak fair dalam menindak maskapai penerbangan sehingga berakibat pada tingginya harga tiket ke Jakarta maupun ke daerah lainnya di Pulau Jawa. Ia juga mengkritik harga tiket yang diterapkan Maskapai Garuda yang tergolong tinggi.

“Kita tidak berdaya untuk paksa menurunkan tarif ongkos kecuali hanya meminta pertimbangan pemerintah pusat. Namun saya kira cara ke Jakarta via Kuala Lumpur itu solusi unik tapi harus, yang pada akhirnya, rakyat Aceh mau ke Jakarta harus buat paspor,” ujarnya.

Kenaikan harga tiket yang gila-gilaan mengharuskan warga Aceh yang ingin ke Jakarta terpaksa memilih rute Aceh – Kuala Lumpur – Jakarta untuk mendapatkan tiket yang lebih murah. Baginya, itu merupakan solusi yang menggelikan. “Ini sangat menggelikan buat saya, dan tentu menyedihkan buat masyarakat Aceh yang hendak berpergian ke Jakarta. Masa kita ke pusat ibu kota lebih murah jika dilalui pusat ibu kota negara malaysia,” ujarnya.

Meski demikian, lanjut Asnawi, fenomena ini nantinya akan mendatangkan masalah baru yakni masyarakat kesulitan membuat paspor.

“Karena syarat membuat paspor harus ada tujuan ke Malaysia atau negara mana dituju. Sementara mereka hanya ingin berhemat ongkos dengan membuat paspor. Saya mengharapakan kepada pihak Imigrasi agar tidak mempersulit urusan masyarakat,” ucap politisi dari partai PAN ni.

Kondisi ini direspon Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association akhirnya (INACA) yang resmi menurunkan tarif tiket yang memunculkan polemik di publik.

I Gusti Ngurah Askhara Danadipura atau Ari Askhara, selaku Ketua INACA menyampaikan, penurunan harga tiket telah disepakati secara bersama-sama oleh para perusahaan maskapai yang beroperasi di Tanah Air. Asosiasi itu mulai menurunkan harga dimulai sejak Jumat unutk beberapa rute domestik yang menjadi tujuan favorit para penumpang. “Kami mendengar, kami berkomitmen menurunkan harga tiket,” kata Ari saat menyampaikan keterangan pers di kawasan Jakarta Selatan, Mingu (13/1).

Ari menyamaikan, penurunan tiket bervariasi 20-60 persen. Sejak penurunan mulai berlaku, rute yang mengalami penyesuaian tarif seperti Jakarta-Denpasar, Jakarta-Yogyakarta, Jakarta-Surabaya, dan Bandung-Denpasar dan beberapa wilayah. Penyesuaian itu, lanjut Ari, akan terus berlanjut atas koordinasi dengan pihak pemerintah dalam hal ini Kementrian Perhubungan.

“Ditengah kesulitan pra maskapai, kami tetap paham dan mengerti akan kebutuhan masyarakat. Dan kami memastikan komitmen memperkuat akses masyarakat terhadap layanan penerbangan nasional.” ujarnya.

Lebih lanjut, Ari menyampaikan penyesuain sudah berdasarkan hitung-hitungan biaya pendukung layanan penerbangan bandar udara, naviasi dan operasional itu sendiri. “intinya penurunan tarif ini seluurh maskapai akan tetap dan terus meningkatkan safety penumpang,” kata Ari yang merupakan Direktur Utama maskapai Garusa Indonesia. (Asep Saepudin Sayyev)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 14 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here