KNKT Belum Bisa Ungkap Penyebab Palang Pintu Tersangkut

44
sumber gambar: https://static.breakingnews.co.id/

Penyebab anjloknya KRL belum dapat disampaikan PT Kereta Api Indonesia karena masih menunggu hasil investigasi. Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soejanto Tjahjono bersama timnya sudah meninjau lokasi tergulingnya gerbong kereta KA 1722 commuterline jurusan Jatinegara – Bogor di perlintasan Kebon Pedes.

“Mungkin enggak lama lah, masalahnya juga evidunya ada semua. Cuma kita butuh detail apa namanya, detail temuan-temuannya.” katanya sat meninjau okasi.

Ketua KNKT terjun ke lokasi didampingi oleh empat anggota timnya, ia memastikan, karena buktinya ada semua, proses penyelidikan diharapkan tak akan lama. Tim KNKT memeriksa lokasi dari mulai gerbong dan jalur rel. Termasuk menggali keterangan di lokasi.

Namun demikian, Soetjahjono mengtakan pihaknya urung menebak-nebak sebelum memeriksa seluruh komponen di lokasi. Hanya saja, kata dia, hasilnya akan diselesaikan KNKT selama dua bulan.

“Belum, belum, diketahui. Kita eggak nebak-nebak. Keduanya diukur, mesti diukur detail. Ya mungkin kalau ad yang dipastikan di lab mungkin sekitar dua bulanan. Saat ini KNKT laporannya bahwa tidak ada korban jiwa,” ujarnya.

Menurut informasi yang didapat di lapangan dan kereangan dari saksi mata yakni Penjaga Lintasa KRL Kebon Pedes, Yayat saat Kereta Api melintas dari arah Stasiun Cilebut menuju Stasiun Bogor diduga disebebkan karena pintu Lintasan tersangkut.

“Ketika KRL melintas didugas tersangkutnya pintu perlintasan. Dari 8 rangkaian gerong, 3 gerbong anjlok dan mengakibatkan gerbong 1 menarak tiang listrik dari beton yang berada di kanan jalur kereta api dan kondisi rangkaian gerbong 1,2 dan 3 terbalik mengakibatkan jalur dari arah bogor tertutup serta pintu lintasan dari Jalan Pemuda menuju Jalan Kebon pedes tidak bisa dilalui karena rangkaian gerbong masih melintang,” papar Yayat kepada media.

Beruntung dalam kejadian tersebut tidak terdapat korban jiwa. Sampai saat ini koban luka-luka di bawa ke RS Salak Bogor unutk penanganan lebih lanjut.

Berkaitan dengan para penumpang yang menjadi korban cidera dokter Farah dari RS Salak menyebutkan, ada sembilan orang yang dirujuk ke RS Salak. Dari sembilan korban tersebut dua orang yang dirujuk ke rumah sakit lain yang lebih tinggi karena untuk melakukan citiscan. Tidak ada yang arah, bahkan dua orang sudah diperbolehkan pulang.

Dr Farah mengatakan, ada dua pasien seorang ibu dan anak harus kta rujuk ke rumah sakit lebih tinggi karena membutuhkan citiscan. Kemudian yang lima pasien sedang ditangani disini sudah mendapatkan perawatan sedang diobservasi dan dua pasien sudah pulang dan harus melakukan berobat jalan.

“Rata-rata korban mengalami trauma berat karena benturan dari segi bedahnya sari sedang ke ringan. Penaganan fraktur pasti akan ditangani oleh dokter beda ortopedi, pasti bedah yang lebih memegang utama. Kalau luka terbuka tidak ada, tetapi hanya trauma itu benturan memar, atau saspek fraktur bagian kaki,” katanya. (Handy Mehonk)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 11 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here