Penjelasan BMKG soal Cuaca Panas Baru-Baru Ini

95
sumber gambar: https://www.starjogja.com

Dilansir dari laman idntimes, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menanggapi beredarnya berita yang menyebutkan adanya fenomena equinox yang menyebabkan peningkatan suhu ekstrem berakibat sun stroke dan dehidrasi.

Lantas, bagaimana penjelasan dari BMKG soal fenomena ini?

#1. Equinox salah satu fenomena astronomi

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan equinox adalah salah satu fenomena astronomi, di mana matahari melintasi garis khatulistiwa dan secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun, yaitu pada 21 Maret dan 23 September.

Prabowo menjelaskan saat fenomena ini berlangsung, matahari dengan bumi memiliki jarak paling dekat, konsekuensinya wilayah tropis sekitar ekuator akan mendapatkan penyinaran matahari maksimum.

“Namun, fenomena ini tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis maupun ekstrem,” kata Prabowo, dalam keterangan tertulis, Senin (25/3).

#2. Suhu maksimum pada pekan ini 37 derajat celsius

Berdasakan pengamatan BMKG, kata Prabowo, suhu maksimum tertinggi pada Sabtu (23/3) tercatat 37,6 derajat celsius di Meulaboh dan Aceh.

#3. Suhu maksimum tertinggi di Aceh

Prabowo menyebutkan equinox bukan fenomena seperti heat wave atau gelombang panas, yang merupakan kejadian peningkatan suhu udara ekstrem di luar kebiasaan dan berlangsung dalam waktu lama.

“Equinox bukan merupakan fenomena seperti gelombang panas atau heat wave yang terjadi di Eropa, Afrika, dan Amerika yang merupakan kejadian peningkatan suhu udara ekstrem di luar kebiasaan dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama,” kata dia.

#4. Masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan dampak fenomena equinox

Prabowo mengimbau masyarakat agar tidak perlu mengkhawatirkan dampak fenomena equinox sebagaimana yang beredar di masyarakat baru-baru ini.

Secara umum, kata dia, kondisi cuaca di wilayah Indonesia cenderung masih lembab atau basah. Beberapa wilayah Indonesia saat ini sedang memasuki masa transisi atau pancaroba.

“Maka ada baiknya, masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh, dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here