Peternak Minta Segera Terbitkan Regulasi Bisnis Burung Puyuh

87
sumber gambar: https://hellosehat.com

Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Sub 1 Cikembar Slamet Wuryadi mmeinta kepada Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengatur regulasi di sektor bisnis burung puyuh agar tidak dimasuki korporasi maupun perusahaan ternak terintegrasi. Regulasi tersebut diharapkan dapat menjaga kestabilan di tingkat peternak mandiri.

“Konglomerasi belum masuk dalam wirausaha puyuh ini, jadi bentuknya masih UMKM. Kita berharap betul yang kecil-kecil ini bisa tetap bertahan.” kata Slamet kepada Republika, Rabu (13/3).

Dia menjelaskan, saat ini sektor ternak burung puyuh masih masuk ke dalam sektor industri ternak aneka. Sehingga belum ada upaya pemerintah untuk mengkhususkan sekotr puyuh sebagai proyek ternak strategis.

Padahal, dia menjelaskan, populasi puyuh di Indonesia saat ini ada empat juta butir per hari. Jika jumlah tersebut dikalikan dengan ongkos produksi sebesar Rp 300 perbutir, maka omzet telur puyuh mencapai Rp 1,5 miliar perhari. 

“Kalau kita bagi, Rp 600 juta biaya pakannya saja, Rp 600 juta dinikmati seluruh UKM se-Indonesia yang berjumalh 1.500-an, maka artinya gaji peternak puyuh sehat bisa Rp 400 juta,” katanya.

Untuk menjaga keberlangsungan tersebut, pihaknya merasa perlu menyampaikan kepada pemerintah memperhatikan sektor peternakan puyuh. Baik dari kepastian regeulasi, hingga pemasaran dan membantu mempromosikan puyuh ke seluruh lapisan masyarakat sebagai produk peternak yang sehat. (Arie Chandra)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 14 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here