Bendungan Katulampa Alami Pendangkalan

181
https://www.google.com

Bendungan Katulampa kembali mengalami pendangkalan setinggi satu hingga dua meter akibat lumpur dan sampah dari hulu sungai Ciliwung yang berada di kabupaten Bogor. “Kedalaman Bendung Katulampa 3 meter. Setengah muka bendungan ini ada lumpur setinggi satu sampai dua meter,” ujar kepala Bendungan Katulampa, Andi Sudirman kepada wartawan, Senin (18/2).

Menurut Andi, untuk menghilangkan endapan lumpur yang membuat pendangkalan pada Bendung Katulampa, Pihaknya melakukan pengurasan selama sepekan ke depan. “Dikuras agar lumpurnya berkurang. Setuap ada air di atas normal itu, kami lakukan pengurasan kalau dibiarkan endapan lumpur makin tinggi,” katanya.

Andi mengatakan bahwa pendangkalan selalu terjadi pada musim penghujan setiap tahunnya. “Sampah seperti pohon, kasur, dan sofa merupakan salah satu penyebab pendangkalan,” ucapnya.

Beberapa hari lalu, sambungnya, ketinggian air muka Bendung Katulampa sempat mencapai 150 cm, dan untuk mengantisipasi banjir pengurasan pun harus dilakukan. “Saat ketinggian air sudah normal kembali baru akan di tutup kembali. Yang penting saat dikuras debit air masih bisa mengairi irigasi kali baru,” jelas Andi.

Lebih lanjut, kata dia, hari ini pihaknya akan melakukan penutupan terhadap Bendung Katulampa, apabila terdapat penambahan debit air hingga 200 liter kubik perdetik, pintu air akan dibuka kembali. “Kalau mencapa 200 liter kubik perdetik akan kami buka 10 persen. Bila lebih dari 200 liter kubik per detik maka akan dibuka 20 persen,” papar Andi.

Andi menambahkan, pencemaran sampah di Sungai Ciliwung cukup tinggi. pasalnya, setiap kali pihaknya melakukan pembersihan jumlah sampah yang didapat bisa mencapai 30 hingga 50 karung. “Paling banyak ya sampah rumah tangga. Karena itu seharusnya ada jaring sampah yang mempunyai kekuatan menahan 600 liter kubik air perdetik, “jelasnya.

Selain itu, kata dia, penataan dan perbaikanterhadap 1.000 batu pemecah arus juga harus dilakukan, sebab saat ini banyak batu yang sudah bergeser dari jalur yang telah ditentukan. (Fredy Kristianto)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 19 Februari 2019

SHARE

Tinggalkan Komentar