BNN Usulkan Bentuk Laboratorium Narkoba Nasional

936
Kepala BNN, Budi Waseso (google images)

Kepala Badan Narkotika Nasional Budi Waseso mengusulkan dibentuk pusat laboratorium narkoba nasional, sebagai upaya deteksi dini munculnya narkoba jenis baru yang dikembangkan berbagai jaringan narkoba nasional dan internasional.

“Saya sudah usulkan kepada Presiden Joko Widodo terkait maraknya jenis narkotika baru agar Indonesia memiliki laboratorium narkotika nasional,” kata Budi Waseso dalam acara minum kopi atau “coffee morning” bersama Ketua DPR Setya Novanto, di Gedung Nusantara III, Jakarta, Jumat.

Budi Waseso mengatakan laboratorium itu digunakan untuk mendeteksi makanan yang mengandung narkoba karena jaringan narkotika mengedarkan jenis baru dalam berbagai bentuk.

Budi menjelaskan di dunia ada 800 narkoba jenis baru, yang 60 di antaranya masuk ke Indonesia namun karena keterbatasan laboratorium maka hanya 43 yang baru terdeteksi.

“Karena keterbatasan seperti laboratorium sehingga dari 60 jenis narkoba baru, sebanyak 43 yang terdeteksi sehingga ada 17 jenis yang beredar bebas tanpa bisa ditangkap,” ujarnya.

Menurut dia, saat ini ada 72 jaringan narkoba yang mengedarkan narkoba berbagai jenis yang masuk ke Indonesia dari berbagai wilayah.

Dia menilai kedepan Indonesia harus berpikir ancaman kedepan karena secara geografis penjagaannya lemah.

“Ada 11 negara asal penyuplai ke Indonesia, mereka melalui negara transit seperti Malaysia dan Singapura. Namun sampai hari ini saya tidak bisa bekerja sama dengan kedua negara,” ujarnya.

Selain itu, dia juga telah mengajukan usulan agar Indonesia memiliki tempat rehabilitasi nasional karena sebagai bentuk standarisasi proses rehabilitasi korban penyalah gunaan narkoba.

Dia mencontohkan saat ini ada 100 tempat rehabilitasi dengan 100 cara rehab sehingga diperlukan standarisasi proses rehabilitasi.

“Pusat rehabilitasi nasional sudah kami rintis sehingga menjadi rujukan,” katanya.

Buwas juga menjelaskan bahwa BNN telah membuat buku materi pelajaran dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) terkait pemahaman penyalahgunaan narkotika.

Karena menurut dia, jaringan narkoba mulai menyasar kalangan anak sekolah dengan mencampurkan makanan dengan narkoba.  (Antara)

SHARE

Tinggalkan Komentar