Bus Sekolah Belum Maksimal

285
sumber gambar: https://www.ayobogor.com

Dua unit bus sekolah mulai di operasikan oleh pemerintah kota (pemkot) Bogor melalui melalui dinas pendidikan (Disdik), beberapa waktu lalu. Dua armada tersebut masing-masing hanya mampu menampung 40 dan 15 penumpang saja.

Diketahui, bus tersebut beroperasi mulai pukul 06.00 WIB hingga 15.00 WIB, dengan menempuh rute berbeda setiap harinya. “Kami menyediakan 300 kartu untuk siswa SMP yang kurang mampu untuk dapat naik bus sekolah. Satu kartu dapat di pergunakan satu sampai dua orang, ungkap kepala Disdik Fachrudin kepada wartawan, belum lama ini.

Fachrudin menyatakan bahwa kartu bus sekolah di terbitkan atas verivikasi yang dilakukan oleh sekolah masng-masing. “Kartunya kami yang menerbitkan, setelah mendapat data dari pihak sekolah. Saat ini dari masing-masing kecamatan lebih kurang sudah terdaftar 60 pelajar SMP yang dapat menikmati fasilitas itu.

Menurutnya, penggunaaan kartu bus sekolah dilakukan agar program tersebut tepat sasaran. “Prioritas pengguna bus sekolah adalah siswa yang kurang mampu,” tegasnya.

Fachrudin mengaku bahwa sebanyak dua unit armada tersebut belum mampu mengakomidir siswa miskin yang ada di kota Bogor. Sebab, ada 2.000 pelajar yang masuk ke SMP menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Meski demikian, sambungnya, Disdik tidak akan melakukan penambahan armada pada 2019 ini. “Anggarannya akan terbatas. Dua memang tidak cukup, kalau soal berapa idealnya masih dalam tahap kajian berdasarkan hasil evaluasi terhadap armada tersebut,” jelasnya.

Selain itu, Disdik pun harus memperhitungkan keberadaan angkutan kota (angkot) agar tidak menjadi permasalahan di kemudian hari,”ucapnya.

Ia mengatakan bahwa anggaran pengadaan dua bus tersebut lumayan besar, yakni Rp430 juta untuk bus mini, dan Rp700 juta lebih bagi bus sedang. ke depan, sambing dia, Disdik akan melakukan kajian dan evaluasi terkait pelaksanaan program tersebut.

Dalam kesempatan berbeda, sekertaris komisi IV DPRD kota Bogor Atty Somaddikarya menilai bahwa program tersebut tidak efektif. Sebab, jumlah yang mampu di angkut tidak sebanding dengan jumlah siswa miskin.

“Kan bus Cuma ada dua. Jadi jangan sampai menimbulkan kecemburuan ketika siswa tidak menerima kartu, sementara untuk naik bus sekolah syaratnya kan itu,” katanya.

Atty menyatakan, pengoperasian bus sekolah jangan sampai salah sasaran, sebab saat dilaunching beberapa waktu lalu di sosial media terlihat bahwa penumpangnya bukan dari kalangan ekonomi lemah. “Secara kasat mata tak terlihat mereka siswa miskin karena ada salah satu siswi yang menggunakan handpone canggih,” imbuhnya.

Selain itu, sambungnya , rute bus yang berpindah-pindah membuat siswa kurang mampu hanya sanggup menghemat dua kali ongkos pulang pergidalan sepekan. (Fredy Kristianto)

Sumber: Koran Jurnal Bigir, edisi 4 Februari 2019


SHARE

Tinggalkan Komentar