Cari Jurus Baru Lagi Buat Pasien Kanker Thyroid

193
sumber gambar: https://www.google.com

“Berinovasi dalam pelayanan publik di bidang kesehatan itu banyak jurusnya, karena itu pasien berharap, pengelola RSUD terus mencari jurus baru. Setelah jurus Mandiri, RSUD Kota Bogor berusaha melayani dengan sepenuh hati. termasuk buat pasien Kanker Thyroid. Itu banyak diderita warga Bogor, namun kamar rawat inapnya masih terbatas, sehingga panjang waitinglistnya.”

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor berhsil mendapatkan penghargaan atas inovasi Jurusan Mandiri dilaksanakan RSUD Kota Bogor dalam penilaian inovasi pelayanan publik tingkat Jawa Barat 2018. Setelah penerimaan reward itu, pengelola RSUD Kota Bogor diharapkan warga, khususnya pasien terus berbenah, bahkan mencari jurus baru agar pelayananya makin bermanfaat, terutama bagi penderita kanker thyroid yang banyak di Kota Bogor.

“Kami salut atas usaha Dirut dan jajaran RSUD Kota Bogor dalam memperoleh rewar tingkat Jabar itu, namun setelah meraihnya kudu makin manfaat pelayanan publiknya, khusunya buat penderita kanker thyroid di Bogor,” ungkap Amandha, warga Bogor penerita kanker thyroid yang sedang menunggu antrean kamar rawat inap di RSUD itu ketika ditemui, Selasa (15/1).

Sesuai rujukan Puskesma, tempat ia tinggal, yakni RSUD Kota Bogor, siswi kelas 12 di SMK Perhotelan itu dianjurkan ke Prodia, karena pemeriksaan TSHs di RSUD dinyatakan kosong dan dokternya merujuk ke Prodia, dengan biaya Rp 301 ribu. Setelah muncul hasil perincian tes tersebut, pasien masiih harus menunggu kamar rawat inap intuk dilakukan tindakan (operasi).

“Belum tahu sampai kapan menunggunya,” ungkapnya, pasrah, Padahal kondisi pasien terus melemah akibat penderitaan Thyroid yang timbul benjolan di leher kanan, sementara ia harus menghadapai ujian nasional dua-tiga bulan mendatang. “Tadinya sih mau operasi Januari 2019, tapi apa boleh buat belum ada kamar kosong,” tandasnya.

Kanker Thyroid yang jarang terjadi adalah pertumuhan sel abnormal di dalam kelenjar thyroid. Thyroid ialah kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak pada bagian depan leher. Kelenjar ini mengeluarkan hormon-hormon yang antara lain mengatur metabolisme, pertumbuhan, suhu tubuh, denyut jantung, tekanan darah dan berat badan.

Sementara itu, Direktur Utama RSUD Kota Bogor, Dr. Dewi Basmala setelah menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan di Bandung, Jumat (11/18). mengaku puad dan bangga, karena inovasi yang dirumuskan RSUD Kota Bogor bisa berjalan dan diakui.

“Melalui inovasi Jurus Mandiri, kami berusaha memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan mutu yang baik, kendali mutunya terjaga dan kendali biayanya bisa masuk yang dilanjutkan dengan strategi tertentu yang dirumuskan bersama-sama menjadi suatu rumusan strategi mandiri, inilah yang menjadi inti dasarnya membuat Jurus Mandiri,” katanya.

Ia mengaku tidak pernah terbayang akan diganjar dengan oenghargaan. RSUD Kota ogor hanya fokus bekerja bagaimana caranya agar keberlanjutan RSUD Kota Bogor tetap terjaga. “Ketika diinformasikan ada lomba inovasi, kami menocbanya dan alhamdulillah masuk,” tuturnya.

Adapun yang menjadi penilaian utamanya adalah yang berdampak pada pelayanan publik, yakni outputnya terhadap masyarakat. Jadi penilai melihat langsung ke lapangan, menanyakan langsung kepada para pasien. “Jadi tim penilai bisa benar-benar menilai pelayanan publik yang sangat baik dengan adanya strategi jurus mandiri,” jelasnya.

Selain bermanfaat sebagai motivasi bagi jajaran RSUD Kota Bogor untuk lebih meningkatkan kinerja penghargaan ini juga sebagai panduan untuk mencapai pelayanan publik yang baik. Ke depan RSUD Kota Bogor akan memunculkan layanan unggulan terhadap penanganan penyakit kanker. “Kami akan komit dan konsen kepada pengembangan Sentral Kanker. Saya berharap RSUD Kota Bogor mempunyai Sentra Kanker, sehingga bagi para penderita Kanker tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta,” paparnya.

Lebih jauh lagi RSUD Kota Bogor akan menjadi sentra nasional untuk penanganan Kanker, selain Rumah Sakit Dharmais. “Saat ini prosesnya sudah mencapai 50 persen,” sebut Dewi.

Pilihan Sentr Kanker, menurut Dewi, dilatarbelakangi angka kejadian Kanker di Kota Bogor yang sangat tinggi, banyak warga Kota Bogor berobat Kanker harus ke Rumah Sakit Dharmais Jakarta, sementara waitinglistnya sangat banyak.

Dengan adanya penghargaan ini, menurut Sekretaris Daerah Kota Bogor, Ade Srip Hidayat, menunjukan kepada masyarakat bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Bogor tetap memiliki prestasi dan bisa memunculkan inovasi pelayanan publik. (Mochamad Ircham)

Sumber: Koran Jurnal bogor, edisi 16 Januari 2019

SHARE

Tinggalkan Komentar