Dinkes Bogor Sosialisasikan Bahaya Penyalahgunaan Obat PCC

1092
Sumber Gambar : https://hello-pet.com

Dinas Kesehatan Kota Bogor, Jawa Barat, menyosialisasikan
surat edaran penjelasan Badan Pengawasan Obat dan Makanan tentang
penyalahgunaan obat PCC kepada masyarakat dan bahaya obat tersebut.

“Kami minta bantuan media untuk menyebarluaskan informasi terkait PCC ini
kepada masyarakat luas,” kata Kepala Seksi Informasi Kesehatan dan Humas
Dinas Kesehatan Kota Bogor Nia Nurkania di Bogor, Minggu.

Sebelumnya Kepala Seksi Perbekalan Kesehatan, Pengawasan Obat dan Makanan
Dinas Kesehatan Kota Bogor Nurhaeda mengimbau masyarakat untuk
berhati-hati dalam mengonsumsi obat-obatan guna mengantisipasi tragedi
yang terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara.

“PCC tu obat keras yang tidak boleh dijual sembarangan atau harus seizin
dokter,” kata Nurhaeda.

Nurhaeda menyebutkan PCC dulu obat untuk penyakit jantung dan tidak boleh
dikonsumsi sembarangan karena banyak yang menyalahgunakan obat tersebut
sehingga izin edarnya ditarik.”Dan tidak boleh dijadikan sebagai obat
lagi,” kata Nurhaeda.

Sementara itu sosialisasi penjelasan BPOM tersebut dijelaskan Badan POM
secara serentak telah menurunkan Tim untuk menelusuri kasus penyalahgunaan
PCC di Kendari, Sulawesi, dan melakukan investigasi apakah ada produk lain
yang dikonsumsi oleh korban.

Dari segi penampilan fisik obat PCC yang ditemukan di Kendari, terdapat
kemiripan dengan Barang Bukti (BB) kasus Balaraja yang pernah ditangani
oleh Badan POM pada 2 September 2016, yaitu tablet Somadryl tanpa izin
edar yang mengandung zat aktif Carisoprodol/Karisoprodol.

Karisoprodol digolongkan sebagai obat keras. Mengingat dampak
penyalahgunaannya lebih besar daripada efek terapinya, seluruh obat yang
mengandung Karisoprodol dibatalkan izin edarnya pada tahun 2013.

Obat yang mengandung zat aktif Karisoprodol memiliki efek farmakologis
sebagai relaksan otot namun hanya berlangsung singkat, dan di dalam tubuh
segera dimetabolisme menjadi metabolit berupa senyawa Meprobamat yang
menimbulkan efek menenangkan (sedatif).

Penyalahgunaan Karisoprodol digunakan untuk menambah rasa percaya diri,
sebagai obat penambah stamina, bahkan juga digunakan oleh pekerja seks
komersial sebagai obat kuat.

Sebelum kasus ini terjadi, Balai POM di Kendari telah berkoordinasi dan
melakukan penelusuran dengan Kepolisian setempat. Hasil uji PCC tablet
yang diperoleh dari BNN Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan positif
mengandung Karisoprodol.

Pada Juli 2017, Badan POM juga telah melakukan Operasi Terpadu
Pemberantasan Obat-Obat Tertentu yang sering disalahgunakan dan memastikan
tidak ada bahan baku dan produk jadi Karisoprodol di sarana produksi dan
sarana distribusi di seluruh Indonesia.

Untuk menghindari penyalahgunaan obat maupun peredaran obat ilegal,
diperlukan peran aktif seluruh komponen bangsa baik instansi pemerintah,
pelaku usaha, maupun masyarakat.

Badan POM bersama Kepolisian dan BNN serta instansi terkait lainnya telah
sepakat untuk berkomitmen membentuk suatu tim Aksi Nasional Pemberantasan
Penyalahgunaan Obat yang akan bekerja tidak hanya pada aspek penindakan,
namun juga pada aspek pencegahan penyalahgunaan obat.

Pencanangan aksi tersebut direncanakan pada tanggal 4 Oktober 2017.

BPOM mengajak masyarakat menjadi konsumen cerdas dengan selalu ingat “Cek
KLIK”. Pastikan Kemasan dalam kondisi baik, baca informasi produk pada
Labelnya, pastikan memiliki Izin edar Badan POM, dan pastikan tidak
melebihi masa Kedaluwarsa.

Badan POM tetap memantau dan menindaklanjuti pemberitaan ini. Jika
masyarakat memerlukan informasi lebih lanjut dapat menghubungi contact
center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533 atau sms 0-8121-9999-533 atau
email halobpom@pom.go.id atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) di
seluruh Indonesia.

Kasus penyalahgunaan obat bertuliskan PCC yang beredar di Kendari,
Sulawesi hingga menyebabkan 1 (satu) orang meninggal dunia dan 42 orang
lainnya harus dirawat di beberapa Rumah Sakit di Kendari.

Kasus tersebut tengah ditangani oleh pihak Kepolisian RI bersama Badan POM
guna mengungkap pelaku peredaran obat tersebut serta jaringannya. Badan
POM dalam hal ini berperan aktif memberikan bantuan ahli serta uji
laboratorium dalam penanganan kasus tersebut.

SHARE

Tinggalkan Komentar