Dinkes: Restoran-Kafe Melanggar kawasan Tanpa Rokok

938
Sumber Gambar : Harapanrakyat.com

Dinas Kesehatan Kota Bogor, Jawa Barat menemukan sejumlah
restoran dan kafe melanggar Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2009 tentang
Kawasan Tanpa Rokok.

Temuan tersebut terungkap dalam kegiatan sosialisasi terkait kawasan tanpa
rokok (KTR) di tempat-tempat umum, Senin, dengan sasaran restoran dan kafe
yang menjadi tempat favorit anak-anak muda berkumpul.

“Kegiatan sosialisasi ini sudah berjalan sejak awal tahun, secara bertahap
sudah 10 kali kami turun ke lapangan. Total ada 100 restoran dan kafe yang
sudah kami datangi,” kata Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan
Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota, Erni Yuniarti kepada Antara.

Erni menyebutkan dari 100 restoran dan kafe yang didatangi oleh Tim Satgas
KTR tersebut beberapa sudah ada yang pernah didatangi oleh tim sebelumnya.
Dan beberapa lainnya adalah restoran dan kafe yang baru berdiri.

Menurutnya pertumbuhan restoran dan kafe di Kota Bogor yang cukup pesat
mendorong pihaknya untuk memastikan tempat umum tersebut mengikuti aturan
dengan menegakkan peraturan daerah tentang KTR.

Dari hasil tinjauan di lapangan, kebanyakan restoran dan kafe tersebut
melanggar Perda KTR. Petugas menemukan iklan, dan berbagai produk rokok
seperti asbak, pertunjukan musik langsung yang disponsori rokok, maupun
dekorasi tempat duduk yang identik dengan industri rokok.

“Kami menemukan fakta banyak sekali ritel rokok yang masuk ke restoran dan
kafe baru di Kota Bogor. Kita tidak tau model pendekatan mereka seperti
apa, apakah memberikan bantuan, acara musik, dan atribut yang ada sponsor
rokoknya,” kata Erni.

Ia mengatakan dalam kegiatan sosialisasi ke lapangan tersebut, pihaknya
menggandeng Disbudparekraf sebagai instansi yang berwenang melakukan
pembinaan kepada pengelola restoran dan kafe di Kota Bogor.

Dari 100 restoran dan kafe yang didatangi tim KTR Dinkes dan
Disbudparekaf, kebanyakan pengelolanya mengaku tidak mengetahui adanya
aturan tentang Perda KTR. Mereka berdalih tidak tahu kalau iklan rokok
dilarang di restoran, dan aturan larangan mendisplai penjualan rokok.

“Karena tujuan kami turun adalah untuk sosialisasi dan melakukan
pendampingan, jadi kami lebih kepada advokasi tidak memberikan sanksi.
Jika ada atribut rokok kita minta untuk diganti, demikian iklan rokok
dicabut. Kalau ada yang menjual rokok diperbolehkan tapi tidak boleh
mendisplai,” kata Erni.

Erni menyayangkan banyak restoran dan kafe baru berdiri yang tidak
mengetahui adanya soal Perda KTR. Sehingga banyak restoran dan kafe
mempersilahkan ritel rokok masuk, memasarkan dan mempromosikan produknya.
Sementara itu, kafe dan restoran juga menjadi tempat berkumpulnya
anak-anak muda di Kota Bogor.

“Seharusnya Dinas Perizinan melibatkan Disbudparekraf dalam memberikan
izin pendirian restoran atau kafe baru, sehingga Perda KTR dan Perda
Reklame ini bisa diterapkan di tempat umum ini,” kata Erni.

Menurut Erni, sejak mereka gencar mendatangi restoran dan kafe lalu
melakukan sosialisasi dan pendampingan. Ritel rokok mulai mendatangi Dinas
Kesehatan untuk mempertanyakan aturan terkait Perda KTR. Karena sejak
didatangi banyak restoran dan kafe yang mundur dan menurunkan segala
bentuk promosi rokok.

“Kami didatangi oleh ritel rokok, minta penjelasan. Karena sejak ada
sosialisasi dan pendampingan banyak restoran dan kafe yang mulai peduli
KTR. Sehingga ritel rokok ini merasa dirugikan, mungkin karena kontrak
berlaku setahun, tetapi belum sampai setahun sudah banyak restoran yang
berhenti promosi,” kata Erni.

SHARE

Tinggalkan Komentar