Film “Dilan” Ditolak di Makassar

499
sumber gambar: https://i0.wp.com/malangtoday.net

Aliansi Organisasi Peduli Generasi Muda kembali menolak penayangan film Dilan 1991 di biosko Makassar karena dinilai merusak pola pikir generasi muda. Aktivis mahasiswa itu menilai film tersebut merusak budaya Indonesia.

“Ada beberapa adegan-adegan dalam film itu memilki konten negatif yang merusak cara berpikir pelajar maupun generasi muda kita,” ujar Korlap akso Baso Kala di depan Mal Panakukang Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (5/3).

Menurutnya, berdasarkan hasil pengkajian terdapat desai neoliberalisme dengan sengaja menggiring cara berpikir pelajar pada adengan ciuman antar pelajar di sekolah, perkelahian dan perilaku kurang ajar terhada guru dalam kelas saat belajar mengajar.

Selain itu, cara berpacaran secara terbuka tersebut juga merusak budaya Indoneisa yang seharusnya tidak dilakukan pelajar karena mereka dituntut unutk menimba ilmu bukan berpacaran.

Pihaknya mendesak pihak berwenang dalam hal ini pengelola biskop pada semua mal di Makassar tidak memutar film Dilan 1991 dan diminta menghentikan penayangan di smua bisoskop seluruh Indonesia. Sebab, konten didalam film itu memilki efek buruk bagi remaja yang labil dan cenderung penasaran untuk ikut-ikutan meniru adegan-adegan negatif itu.

Pihaknya juga mendesak pihak pengelola mal seIndoneisa untuk mencabut ini XXI karena dianggap ikut andil dalam menyiarkan pengaruh-pengaruh negatif melalui film tersebut kepada penonton utamanya generasi muda.

Demonstran menganggap apa yang ditayangkan lebih mementingkan keuntungan bisnis ketimbang mencegah pengaruh negatif bagi pemikiran anak bangsa.

“Mendesak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Pariwisata untuk mengevaluasi kinerja lembaa sensor film Indonesia. Meminta DPR melalui Komisi I untuk mendesak semua pihak ikut andil dalam penyelamatan generasi bangsa dari budaya asing,” tegasnya.

Sebelumnya, penolakan pemutaran film Dilan 1991 dilakukan organisasi mengatasnamakan Laskar 98 Indoneisa di XXI Mal Panakukan saat pemutaran perdana film itu.

Mereka menunut agar penayangan film yang dinilai tidak mencerminkan karakter anak bangsa tidak lagi diputar pada bioskop-bioskop mal setempat.

Hal ini kemudian mengelinding hingga doorng organ lain ikut menyuarakan penolakan film tersebut. (Asep Saepudin Sayyev)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 6 Maret 2019

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here