Gagal Ciptakan Lapangan Kerja Baru

562
Sumber gambar http://3.bp.blogspot.com/-8hN8vxXcY4I/TtODKngN-9I/AAAAAAAAACY/qJ99WDmGx1w/s1600/akibat-pengangguran.jpg

Sebanyak 231 Angkutan Sewa Khusus (ASK) menjadikan profesi ini sebagai pekerjaan utama, sedangkan 60 lainnya hanya sebagai sampingan. Sedangkan ojek online (ojol), dari 300 responden, sebesar 71,7 persen menjadikannya sebagai mata pencaharian utama.

Pelaku ASK yang mengaku profesinya sebagai pekerjaan utama, dari 100 responden sebelumnya bekerja sebagai karyawan, kini 82 responden adalah sopir taksi, angkutan umum dan pribadi. Sedankan yang pengangguran hanya 10 persen.

Lantas, sisanya bekerja sebagai pelajar, wiraswasta, PNS, bruh dan freelance. Adapun untuk ojol sebayak 36,74 persen mengaku sebagai karyawan dan 29,7 persen sebagai buruh.

Hanya sekitar 5,58 persen atau 12 responden yang sebelumnya tidak bekerja. Sisanya, pernah berprofesi sebagai TNI/Polri, serabutan, teknisi, pelayaran, sopir pribadi, serta ibu rumah tangga.

“Data ini mengoreksi klaim dari perusahaan aplikator (Gojek dan Grab) yang mengklaim ahwa mereka telah menciptakan lapangan kerja baru. Faktanya, lebih cepat dikatakan bahwa mereka memberi opsi pekerjaan baru,” kata Ketua Tim Peneliti Instran, Darmaningtyas.

Ia menegaskan, menciptakan dan memberi opsi lapangan kerja baru merupakan hal yang berbeda. Lapangan kerja baru merupakan masyarakat yang sebelumnya memang tidka bekerja. Sedangkan opsi pekerjaan baru maknanya sebagai tersedianya pekerjaan lain.

“Data ini juga menggugurkan klaim Gojek dan Grab yang mengatakan telah menciptakan sekian ratus ribu lapangan pekerjaan,” tegas Dmaningtyas. (Asep Saepudin Sayyev).

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 21 Desember 2018

SHARE

Tinggalkan Komentar