Jelang Larangan Kantung Plastik, Tas Daur Ulang Disiapkan

315
Sumber gambar : https://www.akibanation.com

Mulai 1 Desember 2018, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melarang mall dan toko modern menyediakan kantung plastik. Walikota Bogor Bima Arya mengatakan, jelang kebijakan tersebut diterapkan, ia melihat banyak pelaku usaha sudah siap bahkan di minimarket itu sudah memasang tanda larangan.

Bima mengatakan, larangan tersebut dapat dimanfaatkan bagi pelaku usaha untuk mengambil peluang dengan membuat kantung aternatif yang ramah lingkungan. “Bahannya bukan plastik yang mereka siapkan tetapi yang bisa didaur ulang yang bisa dipakai cukup lama.” ujarnya kepada wartawan, Senin (26/11).

Menurut dia, warga yang akan belanja di mall atau toko modern, dapat mendapatkan kantung alternatif yang sudah disiapkan di toko tertentu, “Saya perintahkan kepada seluurh kelurahan di Kota Bogor untuk menyediakan outlet kantung yang ramah lingkungan produk dari PKK atau UMKM. Jadi ada tas daur ulang yang selama ini sulit dipasarkan sekarang momentumnya,” katanya.

Bima mengaku optimistis kebijakan tersebut dapat berjalan. “Insya Allah tidak ada penolakan,” ujarnya.

Kata Bima, pertanyaan-pertanyaan itu  ahkan datang instagram dirinya melalui DM. “Kita juga kan mengadakan sayembara banyak sekali yang sudah mengirimkan design yang  bagus. Tapi saya lihat mungkin 90% dukungan dan 10% pertanyaan karena menurut saya tidak relavan ketika kritik-kritik mengenai infrastruktuk, karena ini masalah wilingness bukan masalah kesiapan,” tuturnya.

Untuk menerapkan sebuah kebijakan, menurutnya tidak harus punya dulu pengganti pabrik pengganti plastik baru bisa berjalan. Dan ia menconothkan, dalam menghadapi kebijakan sama seperti dulu.

“Apakah sebelum ada kantung plastik kita siap?, kita keranjang sendiri dari rumah. Bahkan di negara maju mereka membawa tas sendiri sudah biasa, bawa kardus juga biasa dan sebagainya. Jadi sekarang, lebih kepada mengkoordinasikan untuk penyediaan kantong alternatif tadi,” katanya.

Bima menuturkan, pemberlakuan kebijakan itu masih di pusat perbelanjaan serta toko ritel, dan belum merambah pasar tradisional. “Ya, dilihat dulu pelalsanaan di pusat perbelanjaan dan toko riset dulu, setahun, dua tahun mungkin kita lihat dulu,”pungkasnya. (Fredy Kristianto)

Sumber : Koran Jurnal Bogor, Edisi 27 November 2018

SHARE

Tinggalkan Komentar