Ketika Jokowi Sebut Indonesia Menuju Proses Pengembangan Energi B100

176
Sumber gambar: http://www.bpdp.or.id

Visi calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) soal pengembangan energi B100 persen pada BBM masih akan sulit dicapai. Hal ini diungkapkan Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya.

MASALAHNYA, di Eropa saja kepedulian atas lingkungannya tinggi, program B100 masih belum bisa direalisasikan di tanah air. “B100 itu agak sulit. Pasalnya kalau 100 persen biodisel itu banyak yang tidak jalan. Maksimal campuran biodisel itu biasanya 40 persen,” kata dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia itu.

Ia menyayangkan dari visi misi Joko Widodo soal pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), hanya pengembangan minyak kelapa sawit yang diangkat. Padahal, Indonesia memiliki potensi pasokan energi baru dan terbarukan yang begitu melimpah.

“Kalau bicara baru dan terbarukan biasanya akan bicara soal angin, air, surya atau geotermal, tapi kok tidak disebut. itu agak aneh. Padahal ada beberapa yang sudah beroprasi misal pembangkit angin di sidrap. Itu jadi pertanyaan,” katanya.

Ia berharap ada komitmen Jokowi untuk mendorong pembangunan dan pemanfaatan RBT dalam baruan energi nasional yang ditargetkan mencapai 23 persen pada 2025. Ada pun saat ini, porsi pemenfaatan EBT dalam baruan energi baru mencapai 8 persen.

Calon presiden nomor 01 Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan saat ini Indonesia sedang menuju pada proses pembangunan energi B100 atau campuran biodisel 100 persen yang ada pada BBM.

“Kita sudah produksi B 20 sudah sebanyak 98 persen artinya B20 sudah rampung, saat ini kita menuju B100,” kata Jokowi dalam Debat Capres 2019 Putaran Kedua di Jakarta, Minggu (17/2) malam.

Selain itu, Jokowi jiga menyampaikan bahwa sebanyak 30 persen sawit di Indonesia akan dimanfaatkan menjadi energi baru terbarukan. “Ini sudah kita rencanakan sejak rijik dan jelas, hal ini untuk agar kita tidak tergantung pada impor minyak. (Asep Sapudin Sayyev)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 20 Februari 2019

SHARE

Tinggalkan Komentar