Laba Susut, PT Pos Telat Bayar Gaji

292
sumber gambar; https://www.pantau.com

PT Pos Indonesia (Persero) terambat membayar gaji karyawannya karena kecenderungan laba yang terus turun sejak 2016 lalu. Rencananya, perusahaan BUMN tersebut baru akan membayarkan gaji karyawannya yang jatuh tempo 1 Februari menjadi, Senin (4/2).

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba bersihnya tercatat turun 17,4 persen dari Rp426,9 miliar pada 2016 lalu menjadi Rp355,0 miliar pada 2017. Pada 2015 silam, laba perseoran bahkan cuma Rp29,9 miliar.

Maklum, pendapatan perseroan turun tipis 2,8 persen pada 2016 menjadi hanya Rp4,32 triliun pada 2017. Di sisi lain, beban pokok layanan dan keuangan perusahaan kurir pelat merah ini meningkat.

Hingga akhir 2018 lalu, target laba Rp400 miliar diperkirakan tidak akan mencapai targetnya. Mengutip CNBCIndonesia.com, Direktur W Setijono mengatakan tahun lalu menjadi tahun yang berat bagi perseroan.

“Kami gak tercapai (target laba). Saat ini, ya hampir seperempatnya saja. Berat, Approximate (sekitar) lah ya, Rp100 miliar,” ujarnya di Kantor Kementrian BUMN, akhir tahun lalu.

Sekadar informasi, Pos Indonesia terlambat membayar gaji karyawannya. “Terkait gaji karyawan yang sempat tertunda, dengan berbagai daya upaya, direksi menjamin perusahaan akan segera membayarkan gaji pada 4 Februari 2019,” tutur Sekretaris Perusahaan Pos Indoensia Benny Otoyo melalui keterangan resminya, Minggu (3/2).

Pun demikian, ia mengaskan agar seluruh karyawan san Serikat Pekerja (SP) dapat saling bekerja sama dan menjaga keharmonisan hubungan industrial, termasuk juga menjaga nama baik perusahaan di mata pelangga dan stakeholders.

“Segala yang menyangkut masalah internal perusahaan hendaknya seluruh jajaran dapat saling menghormati dan dapat menyelesaikan dengan baik melalui mekanisme yang telah disepakati tanpa melakukan tindakan kontra produktif,” imbuhnya.

Saat ini, Pos Indoensia mengaku tengah berusaha memberikan pelayanan terbaiknya kepada masyarakat. Perseroan juga tengah melaksanakan transformasi, mengikuti perubahan landscpe industri kurir dan logistik, maupun jasa keuangan, seiring perubahan teknologi yang cepat, regulasi dann kompetensi yang kian ketat.

“Program dan strategi yang dilakukan tersebut mutlak mendapat dukungan dari semua pihak di dalam perusahaan, termasuk karyawan dan SP, apabila perusahaan masih diharapkan untuk terus exist (ada),” jelasnya.

Secara tersirat, Pos Indonesia tengah mengalami masalah. Hal ini diakui Benny. Dalam pernyataanya, ia bilang apapun maslaah internalnya yang terjadi di perusahaan, semua pihak wajib untuk menemukan solusi terbaik dengan kondusif. (Asep Saepudin Sayyev)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 4 Februari 2019

SHARE

Tinggalkan Komentar