Pemkot Sapu Bersih PKL SuryaKencana

475
Sumber gambar : https://mediabogor.com

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akhirnya merelokasi ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang kerap mangkal di sepanjang jalan Suryakancana, Senin (19/11) malam. Penertiban tersebut melibatkan Satpol PP, Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Koperasi dan UMKM, PD Pasar Pakuan Jaya, TNI, dan Polri.

Kepala Satpol PP Kota Bogor Heri Karnadi memimpin penyisiran di jalur Suryakencana untuk memastikan para pedagang kaki lima direlokasi dengan baik. Berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian besar PKL sudah menyatakan kesediannya untuk pindah lokasi dan mendukung program penataan tersebut.

Meski demikian, sebagian PKL masih berjualan dengan meminta izin menggunakan tempat ke toko-toko yang ada sehingga tidak mengganggu perjalan kaki. “Ada sekita 144 PKL, yang berminat pindah 122. Tidak ada kendala berarti di lapangan. Koordinasi dan komunikasi dengan pedagang siang berjalan lancar.” ujar Heri kepada Wartawan.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bogor Annas Rasmana menyatakan bahwa pihaknya akan terus memasifkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai relokasi pedagang dan Suryakencana ke lantai dasar Plaza Bogor.

“Sehingga warga tidak bingung mencari pedagang yang biasa menjadi langgananya. Keuntungan dari relokasi ini juga adalah pembeli bisa menikmati aneka kuliner di dalam satu titik. Di dalam Plaza Bogor ini.” katanya

Kata Anas, ihaknya juga akan terus melakukan evaluasi bersama pedagang agar apa yang diharapkan bisa terwujud untuk kepentingan semua. Langkah-langkah lain terus di rumuskan bersama pedagang, PD Pasar dan OPB lainnya.

“Untuk PKL yang siang kami berikan tempat di lantai dasar Plaza Bogor ini. Bisa menampung 220 pedagang. Tidak perlu khawatir kondisi cuaca, mereka bisa berjualan dengan nyaman,” ungkapnya.

Sedangkan untuk pedagang malam, kata dia, pihaknya sudah mentiapkan eks pasar Sukasari sebagai tempat relokasi. “Kavlingnya sudah disiapkan juga. Listrik kita siapkan, MCK kita siapkan, bongkar muat di depan nya juga kita tata, kita sudah koordinasi dengan Dishub dan lain sebagainya. Insya Allah mereka bisa berjualan dengan nyaman mulai dari malam hari hingga subuh.” katanya.

Andri juga menyebut sejumlah keunggulan relokasi tersebut. Menrutunya, Pasar Sukasari lokasinya tidak jauh dari pusat keramaian yang tadinya Suryakencana.

“Kalau selama ini usaha relokasi sulit karena mereka memang dipindahnya jauh. Saat ini kita berikan tempat yang dari sisi lain mudah, bongkar muat muadah, droping barang dari Cisarua, Sukabumi dan lainnya itu lebih dekat ke Sukasari,” tukasnya.

Di sisi lain, langkah Pemkot Bogor merelokasi PKL kuliner ke dalam Plaza Bogor dinilai tidak menguntungkan pedagang. Salah seorang pedagang cakue, Ade Suryadi mengatakan, sejak direlokasi ke dalam Plaza Bogor, jumlah pembeli sangat sepi. Hal ini berbanding terbalik saat ia masih berjualan di pinggir jalan Suryakencana.

“Biasanya sehari saya bisa habis 10 kg terigu dengan omset Rp450 ribu. Sekarang baru setengah hari saja 1 kg juga belum habis. Untungnya saya hanya mmebawa 3 kg terigu, itu juga tahu habis apa enggak,” ungkapnya.

Ade berharap Pemkot Bogor bisa memberikan solusi terbaik agar para pedagang kecil seperti dirinya, agar dapurnya tetap ngebul dan anaknya bisa bersekolah/ “Ya, kalau terus-terusan begini susah jga. Bingung buat biaya anak sekolah dan makan sehari-hari,” keluhnya.

Iapun menyatakan, seharusnya pemerintah tetap memperbolehkan PKL berjualan, namun tidak boleh mengganggu pejalan kaki dan lalu lintas. “Kami sih lebih berharap ditata saja. Misalnya, gerobaknya dibagusin supaya lebih dan kekinian,” katanya.

Terpisah, Kepala Unit Plaza Bogor Maradona mengatakan, relokasi tersebut merupakan keputusan bersama dari hasil rapat, sesuai keinginan Walikota Bogor Bima Arya, sebagai bentuk dukungan dalam penataan kota dengan dibangunnya Pedestrian disepanjang jalan Surken.

Maradona menegaskan bahwa seluruh pedagang kuliner semua dipindah ke Plaza Bogor eks Ramayana dan saat ini sudah dilakukan pengudian nomor. Di eks Ramayana mendapatkan tempat berdagang seluas 1X1,5 meter.

Tetapi, ketika diundi, jumlah 144 pedagang, hanya datang 122 pedagang yang ikut pengundian nomor. Tetapi kata dia angkat tersebut belum fix karena masih banyak yang mendaftar untuk mendapatkan lokasi berdagang.

Ia menambahkan, dalam sebulan pertama, para pedagang tidak dipungut uang sewa alias gratis, tapi untuk servis cash tetap dikenakan, untuk listrik, keamanan dan kebersihan sekitar Rp5000 perhari.

Di lokasi berbeda, PKL malam dipindahkan ke eks Pasar Sukasari juga mengalami nasib yang sama. Salah seorang pedagang sayuran, Anda mengatakan bahwa tempat relokasi yang diberikan pemerintah sangat tidak memadai. “Kala tempatnya begini, bagaimana mau jualan,” katanya.

Ia juga mengaku heran dengan tempat relokasi yang terkesan apa adanya. “Ini hanya sebatas diratakan saja. Kalau hujan repot kita, saya takitnya amblas ke bawah,” ucapnya.

Iapun mengaku tak habis pikir, mengapa pemkot memindahlan pedagang hanya demi membangun pedestrian. “Pedagang dipindah ke Sukasari gara-gara ada pembangunan pedestrian,” imbuhnya.

Kepala Unit Pasar Sukasari Sri Karyatno mengatakan bahwa hingga pukul 00.00 WIB baru terdapat 92 dari 138 pedagang yang melakukan registrasi untuk mendapatkan tempat berjualan. “Masih banyak pedagang yang belum registrasi,” pungkasnya. (Fredy Kristianto)

Sumber : Koran Jurnal Bogor, Edisi 19 November 2018

SHARE

Tinggalkan Komentar