Penataan Pasar Leuwiliang Ditolak PKL

326
Sumber gambar : http://www.metropolitan.id/wp-content/uploads

Soal penataan paar leuliang yang terhenti, Dirut PD Pasar Tahoga, Eko Romli menegaskan bahwa keterlambatan penataan pasar leuwiliang pada blok depan itu disebabkan karena adanya penolakan dari sebagian pedagang kaki lima (PKL).

“Masih ada penolakan sedikit, pedagang eksisting (pedagang dalam) terhadap desain dari penataan depan. harapannya penataan tidak, menutup akses ke dalam pasar. Konsep dan desain inilah yang coba kira rembukan lagi antara pedagang dalam dan PKL yang di depan,” ujarnya saat dihubungi Jurnal Bogor dalam sambungan telponnya, kemarin.

Untuk penataan tegas Eko, semua pedagang setuju. Namun, tinggal pada desainnya saja. “Sebenearnya sebagian besar setuju, yang tidak setuju tinggal konsep dan desainnya saja yang harus disesuaikan. Konsepnya antara hadap-hadapan atau berjejer karena tempatnya sangat terbatas dibagian depan, sedang PKL nya cukup banyak,” ujarnya.

Diapun mmeinta kepada PKL untuk bersabar, selain itu kata dia, pihaknya sudah punya Database PKL depan dan saat penataan nanti hanya yang didata yang dapat tempat. Sedangkan yang tidak ada didataakan dikeluarkan dari tempat penataan.

Menurutnya, pedagang yang ingin segera di tata harus mau mmebantu menjelaskan kepada pedagang yang menolak bahwa penataan adalah cara terbaik saat ini karena di pasar leuwiliang tidak ada tempat lagi, “PKL yang mau ditata harus ikut aturan PD Pasar dan kalau gak taat ya harus keluar gak jualan di pasar,” tegasnya.

Sebelumnya terhentinya penataan itu pun sempat dipertanyakan ketua Paguyuban asar Leuwiliang H Toba. Menurutnya, penataan hanya pada block B namun hingga 5 bulan terkahir. “Untuk penataan PKL di block B (belakang) sudah selesai. Namun untuk penataan selanjutnya yang sekarang belum terealisasi itu di block depan yang sama sekali belum di sentuh. Ada apa ini,” tanya H Toba.

Dia pun sambungnya, meminta pengerjaan itu segera ditindaklanjuti sesuai janji PD Pasar Tohaga saat akan menata pasar Leuwiliang. “Dulu kan di tata semuanya. Kenapa sekarang jadi terhenti, kenapa dan apa coba,” tanyanya lagi. (CR-JB4)

Sumber : Koran Jurna Bogor, Edisi 19 Oktober 2018

SHARE

Tinggalkan Komentar