Proses Pembuatan Jumat Sampai Senin, Pengiriman Dikawal Khusus

242
https://www.google.com

Diinjeksi samarium tak membuat pasien kanker jadi lemas dan mengantuk sehingga bisa beraktivitas normal. Sayang belum tersebar merata ke seluruh kota di tanah air.

TAK ada lagi efek lemas dan kantuk. Nyeri di tulang perlahan-lahan juga menghilang. Dua suntikan berjarak tiga bulan itu benar-benar membuat kondisi badan Evie Diancha Ebling terasa enak.”Seperti mendapatkan tenaga baru,” kata perempuan 37 tahun itu saat ditemui Jawa Pos (Radar Bogor Group) di RSCM, Jakarta, kemarin (14/2).

Evie adalah penderita kanker payudara. Dua suntikan yang dia dapat pada April dan Juli 2017 itu adalah injeksi samarium-153 EDTMP (etilen diamin tetra metil fosfonat). Produk radiofarmaka hasil kerja sama Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) dan Kimia Farma tersebut berguna untuk terapi paliatif penderita kanker.

Nyeri di sekujur tubuh adalah bagian dari palagan seorang penderita kanker payudara seperti Evie. Sejak pertama didiagnosis kanker pada 2014, perempuan asal Palembang, Sumatera Selatan, itu mengaku kerap merasakannya di bagian leher, tulang pinggang, rusuk, bahu, sampai ke tulang kepala.”Seperti ditusuk-tusuk,” ungkapnya. 

Untuk mengurangi rasa sakit itu, dia menggunakan pereda nyeri resep dokter yang mengandung morfin. Tapi, efeknya, dia ketagihan. hingga tidak bisa beraktivitas. Bawaannya ngantuk terus. Sampai Akhirnya, terapi pereda nyeri dengan obat yanga mengandung morfin tersebut dihentikan.

Perempuan 37 tahun itu kemudian dianjurkan dokternya untuk menggunakan terapi dengan samarium untuk menggantikan morfin. Evie tak langsung menerima. Dia mencari informasi dulu dari beberapa literatur. Sebelum akhirnya bersedia menggunakannya.

Widyastuti, penelitian Batan yang terlibat dalam riset samarium sejak awal, menerangkan, penelitian samarium awalnya merupakan proyek dari Badan Atom Dunia (International Atomic Energy Agency) pada 1996-1997. Kedua tim penelitian samarium itu adalah Prof. Swasono R. Tamat.

Pada 199, lanjut perempuan 60 tahun tersebut, penelitian selesai, “Ditahun itu juga di kirim ke RS dr Sardjito, Yogyakarta,” jelas Widyastuti saat ditemui di Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTTR), kompleks Batan, Tanggerang Selatan, Jumat pekan lalu (8/2).

Seiring berkembangnya regulasi perizinan di dunia medis, pada 2008 ada kewajiban mendaftarkan lagi samarium ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Izin edar samarium Batan akhirnya keluar pada 2016.

Setahun berselang, karya Batan itu diedarkan ke sejumlah rumah sakit di Jakarta, Bandung, dan Semarang. Belum semua kota di tanah aor memang. Karena itu, pasien seperti Evie yang berasal dari Palembang harus terbang dulu ke Jakarta.

Menurut kepala Bidang  Teknologi Radiofarmasi, Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka Batan Agus Hariyanto, keputusan pasien kanker menggunakan samarium atau tidak ada di tangan dokter yang menangani. Umumnya, pengguna adalah pasien kanker yang sudah stadium IV.

“Biasanya mereka pakai morfin dahulu. Baru kalau sudaha nyerah, pakai samarium,” katanya

Terapi samarium, Kata Evie, lebih untuk menghilangkan rasa nyeri. Efek membunuh sel kankernya sedikit. Sementara itu, untuk kemoterapi, efek membunuh sel kankernya cukup kuat. Sedangkan efek menghilangkan rasa nyeri sangat kecil. sehingga kedua terapi tersebut saling melengkapi.

Nah, karena merasa tulangnya sudah tidak nyeri, dia agak meremehkan sel kanker di dalam tubuh. Ternyata, pada Oktober 2018, dia kembali merasakan nyeri pada tulang. tepatnya di bagian kaki. “Kaki saya ngilu lagi. Jalan pincang-pincang,” kenangnya.

Setelah diperiksa, ada sel kanker baru yang di temukan di tulang pangkal paha dan pinggul. Evie pun menjalani terapi samarium yang ketiga seusai melewati serangkaian pemeriksaan.

Injeksi samarium yang ketiga itu dilakukannya pada Jumat pekan lalu di RSCM. Dia ditangani dr. Alvita Dewi Siswoyo SpKN MKes. Saat itu Evie mendapat dosis samarium (Sm-153) EDTMP (etilen diamin tetra metil fosfonat) dengan takaran 50mCi.

Pembuatan samarium biasanya dimulai pada Jumat sore. Diawali dengan proses radiasi serbuk samarium yang ditempatkan di sebuah batangan besi. Demi keamanan, batangan besi itu dicor. (*/c5/ttg)

Sumber: Koran Radar Bogor, edisi 15 Februari 2019

SHARE

Tinggalkan Komentar