Ribuan Rumah tak Pakai Septic Tank

421
sumber gambar; https://i.ytimg.com

Air Ciliwung Diuji Laboratorium

Prilaku hidup bersih nampaknya belum sepenuhnya dilakukan oleh warga Kota Bogor. Khususnya, bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai ciliwung. Pasalnya, berdasarkan pengamatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terdapat ribuan rumah yang tak menggunakan septic tank dan langsung membuang limbah rumah tangganya ke sungai tersebut.

“Ada ribuan rumah di sepanjang sungai ciliwung yang tak memiliki septic tank dan langsung membuang limbahnya ke sungai. Kemungkinan ada bakteri e-coli bisa saja,” ucap Kepala Bidang Persampahan DLH, Ade Nugraha kepada wartawan, Rabu (13/2).

Kata Ade, seharusnya pemukiman di bantaran sungai ditata dengan mencontih pola yang diterapkan oleh Pemerintah Kota Surabaya, dimana setiap rumah yang berdiri di pinggir jalan menghadap ke area tersebut.

Sehinggga mau tak mau penghuni akan membuat septic tank daripada harus membuang langsung limbahnya ke kali.

“Setidaknya bila rumah menghadap ke sungai, mereka tak mungkin membuang limbahnya ke sungai. Sebab, hal itu akan mengganggu pemandangan,” jelas Ade.

Ade menuturkan, berdasarkan rapat koordinasi dengan Walikota dan Dinas ekerja Umum dan Penataaan Ruang (PURP), pemerintah akan membuat septic tank komunal pada beberapa titik di pemukiman yang berada di pinggir jalan.

Menurutnya, dalam menata Ciliwung butuh sinergitas seluruh stake holder, dan mesti didukung dengan adanya MoU antara Pemkot Bogor dan Pemerintah Kabupaten Bogor. “Penataan ciliwung itu memang agak susah. Sebab di hulunya saja telah menjadi sumber sampah,” katanya.

Selain limbah organik, di Sungai Ciiwung juga terdapat puluhan kubik sampah. “Ada 81 titik tumpukan sampah. Dimana setiap titiknya asa 1 kubik sampah perharinya. Makanya dibentuk Satgas Ciliwung yang setiap harinya memantau agar tak ada warga yang membuang sampah ke sungai,” jelasnya.

Atas dasar itu, DLH sendiri membutuhkan 10 armada baru dan 26 gerobak sampah serta mebangun TPS di l3 kelurahan yang berada di sepanjang ciliwung. “Kurang lebih anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp5 miliar. Memang dalam menormalisasi Ciliwung butuh dana besar,” tegas Ade.

Ade menurutkan bahwa Pemot Bogor mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat untuk menata ciliwung sebesar Rp15 miliar yang diberikan secara bertahap. “Nah, unutk tahun ini akan diberi Rp5,5 miliar unutk menormalisasi sungai tersebut agar kembali seperti sedia kala,” singkatnya.

Sementara itu, unutk memastikan kada pencemaran si sungai tersebut DLH melalui Bidang Pengendalian dan Pencemaran Air Udara dan Lahan teah mengamil sampel air Ciliwung pada tiga titik. Yakni, di Katulampa,  Sempur, dan Kedung Halang.

“Kami sedang melakukan uji laboratorium untuk mengetahui kadar pencemaran di sungai tersebut, Diperkirakan hasilnya baru dapat diketahui bulan depan,” ujar Staf Bidang Pengendalian dan Pencemaran Air Udara dan Lahan, Etty.

Menurutnya, keberadaan bakteri e-coli di Ciliwung bisa saja tumbuh subur lantaran rumah sekitara kawasan tersebut tak memiliki septic tank dan membuang limbahnya langsung ke sungai. “Karena itu kami uji lab airnya secara non organik, organik, kimia, fisika, dan mikrobiologi untuk mengetahui apakah ada bakteri e-coli di sungai ciliwung,” jelasnya.

Terpisah, Humas Dinas Kesehatan (Dinkes), Nia Nurkania mengatakan bahwa bakteri e-coli biasanya terdapat dalam makanan, sehingga apabila ada orang yang mengkonsumsinya dan membuang fesesnya langsung ke sungai, otomatis air di kali tersebut dapat tercemar. “Karena itulah Dinkes sangat melarang warga membuang fesesenya di sungai. Apalagi saat ini masih banyak orang ynag menggunakan air sungai yang mencuci dan mandi.” ucapnya. (Fredy Kristianto)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 14 Februari 2019

SHARE

Tinggalkan Komentar