Ridwan Kamil Sematkan Bima Arya Penghargaan Earth Hour Leaders 2019

180
sumber gambar: https://kotabogor.go.id/

Dilansir dari laman resmi Kotabogor.go.id. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyematkan penghargaan Earth Hour Leader 2019 kepada Wali Kota Bogor Bima Arya dalam peringatan Earth Hour di Trans Studio Bandung, Sabtu (30/3/2019) malam.

Pada kesempatan yang sama pula, Ridwan Kamil menyabet piagam penghargaan World Wide Fund for Nature yang diserahkan langsung CEO WWF Indonesia Rizal Malik.

Wali Kota Bogor dinilai sebagai kepala daerah yang melakukan aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan dan upaya penghematan energi. Selain Kota Bogor, penghargaan juga diberikan kepada empat kota lainnya, yakni Wali Kota Bandung, Cimahi, Bekasi dan Depok. “Kelima kota tersebut telah menjadi kota yang inisiatifnya melebihi ekspektasi,” ungkap Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil.

Kota Bogor misalnya. Per 1 Desember 2018, telah meluncurkan program Bogor Tanpa Kantong Plastik (BOTAK). Kebijakan larangan penggunaan kantong plastik di toko ritel modern dan pusat perbelanjaan itu diatur dalam Peraturan Wali Kota Bogor Nomor 61 Tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong plastik.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, sejak diberlakukannya kebijakan tersebut, mampu mengurangi produksi sampah plastik sebanyak 41 ton. Bahkan, dalam waktu dekat Pemkot Bogor akan menjalin kerjasama dengan perusahaan asal Inggris yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar.

“Ini bagian semangat Jabar jadi green province, semangat dalam mencari energi terbarukan dan mengurangi beban energi menjadi sebuah gaya hidup baru di masyarakat,” ujar Emil.

Sementara itu, Bima Arya mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas apresiasi tersebut. Bagi Bima, penghargaan tersebut akan semakin melecutkan semangat Pemkot Bogor yang berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk jajaran Muspida dan komunitas, untuk terus berikhtiar dalam isu-isu lingkungan.

“Pengurangan produksi sampah plastik dipastikan akan terus berjalan, bahkan nanti akan meluas hingga pasar tradisional. Kami juga konsern terhadap naturalisasi Ciliwung dan isu-isu lingkungan lainnya karena PR kita sekarang mengubah kualitas hidup warga. Sanitasi, sampah, air bersih, MCK,” jelasnya.

Menurut Bima, persoalan perubahan iklim sudah menjadi fenomena lingkungan yang nyata dan diakui sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kehidupan manusia. Namun, dalam menerapkan ketahanan iklim, kepala daerah masih dihadapkan dengan sejumlah kendala, mulai dari koordinasi hingga masih adanya anggapan bahwa isu iklim masih kurang ‘seksi’ untuk dibahas.

“Tantangan paling besar bagi kepala daerah adalah keluar dari jebakan quick wins. Padahal banyak kebijakan yang dimensinya jangka panjang, mungkin tidak terasa dalam waktu dekat, salah satunya isu ketahanan iklim. Kalau hanya orientasinya mengerjakan isu populis seperti gratis ini itu dan lain sebagainya, itu bahaya. Soalnya harus balance dengan urusan jangka panjang,” ungkap Bima.

Ya, Earth Hour merupakan gerakan global yang dinisiasi oleh World Wide Fund for Nature (WWF) sejak 2007. Kampanye hemat energi listrik yang bertujuan untuk mengurangi dampak perubahan lingkungan ini telah diikuti oleh 178 negara di seluruh dunia.

Di Kota Bogor sendiri, sejumlah komunitas berkumpul di Balaikota Bogor. Mereka punya cara unik dalam memperingati Earth Hour, yakni dengan menyelenggarakan candle light dinner. (Humpro/pri)

SHARE

Tinggalkan Komentar