Ritel Berguguran, Warga Lebih Suka Belanja Online

221
sumber gambar; https://img.okezone.com

Salah seorang warga Kota Bogor, Agus (32), mengatakan masih gemar berbelanja di toko ritel lantaran tidak dibebani biaya tambahan semisal ongkos kirim layaknya berbelanja di toko daring. Namun, begitu ia mengaku, intensitas berbelanja di toko ritel cenderung menurun lantaran adanya harga promo yang kerap ditawarkan toko daring.

“Kalau belanja online banyak diskonnya, meski hanya Rp 10 ribu saja diskonnya, tapi lumayan juga. Tapi tetap, toko ritel masih dibutuhkan,” kata Agus saat ditemui di salah satu minimarket di Jalan Jambu Dua, Kota Bogor, Selasa (15/1).

Agus jarang mengunjungi toko ritel besar seperti swalayan untuk berbelanja. Biasanya dia mendatangi toko ritel kecil seperti minimarket karena mudah dijangkau dari tempat tinggalnya.

Selain itu, kata dia, kebutuhan yang serin dia beli dari toko ritel besar seperti swalayan cenderung kebutuhan pokok seperti sabun, makanan kaleng, hingga bahan-bahan makanan lain. Dia mengaku hanya mengunjungi toko ritel besar beberapa kali saja dalam sebulan.

Sementara itu ditemui terpisah, seorang warga Kota Bogor Yanti (29), mengaku kerap berbelanja lewat aplikasi daring atau toko daring dari media sosial. Ibu dari satu anak itu menyebut toko daring memiliki kekuatan tersendiri dalam menggaet konsumen.

“Saya buasanya belanja llewat instagram. Toko daringnya unik-unik, ada yang jual macammacam produk pakaian yang jarang bisa didapat di swalayan,” katanya.

Yanti menjelaskan, akhir-akhir ini dirinya kerap berbelanja produk busana dengan desain untuk ibu menyusui. Selain dinilai banyak model terbaru dari busana yang ditawarkan, kata dia, berbelanja di instagram juga lebih fleksibel karena dapat melihat keseluruhan katalog dari beranda galeri aku toko dari tersebut.

Selain berbelanja, Yanti juga dapat memaksimalkan potensi usaha lain dari kegemarannya membuat akun-akun toko dari di instagram, “Karena kualitasnya bagus dan harga terjangkau, biasanya tokok daring nawarin untuk buka reseller. Jadi lumayan, bisa buat tambahan,” kata dia.

Dirinya mengaku jarang berbelanja produk fashion di toko retail besar lantaran enggan datang ke lokasi ritel tersebut. Namun begitu dia menyebut masih sering berbelanja kebutuhan bulanan di toko retail.

Baru-baru ini, PT Hero Supermarket Tbk menginformasikan penutupan 26 toko Hero. Sebanyak 532 karyawan harus terkena damak efisiensi.

Dala dua tahun terkahir, sejumlah jaringn toko retail ditutup. PT Mitra Adi Perkasa (MAPI) menuutp dan tidak memperpanjang gerai-gerai retail merek asing yang emnjadi mitra mereka. Sementara, retail lokal semisal Matahari dan Ramayana juga menutup beberapa toko mereka. (Arie Chandra)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 16 Januari 2019

SHARE

Tinggalkan Komentar