Sering Begadang Bikin Otak Jadi Lemot

276
sumber gambar: https://hellosehat.com

BEGADANG hingga larut malam atau dini hari ternyata tak baik bagi kesehatan otak. Menurut penelitian, orang yang kerap begadang memiliki konektivitas otak yang lebih lambat dibandingkan dengan yang tidak begadang.

Penelitian terbaru dari Monash Institute menunjukan orang yang terbiasa begadang dan bangun setelah matahari terbit, memiliki pola aktivitas otak yang berbeda dibandingkan dengan orang yang tidur cepat dan bangun pagi. Pola aktivitas otak pada orang yang begadang cenderung lebih lambat dalam hal sinkronisasi setiap bagian otak.

Konektivitas otak yang lebih rendah ini dikaitkan dengan fokus yang lebih lambat, dan kantuk yang meningkat pada jam kerja. Penelitian ini menganalisis pola tidur 38 partisipan. Para peserta memakai pelacak aktivitas dan menjalani tes untuk mengukur kadar hormon. Kemudian, otak peserta juga dipindai saat sedang beristirahat.

Para peserta juga melakukan beberapa tes untuk mengukur perhatian dan kecepatan reaksi pada waktu yang berbeda dalam sehari. Pesrta juga ditanya seberapa mengantuk mereka pada waktu itu.

Hasil pemindaian otak menunjukan bahwa orang yang tidak begadang memiliki konektivitas otak yang lebih tinggi daripada orang yang begadang. mereka juga memiliki kinerja dan reaksi yang lebih baik selama bekerja.

Konektivitas otak  yang lebih rendah terlihat pada orang begadang yang berujung pada kinerja yang buruk, reaksi yang lamban dan kantuk yang meningkat. Hasilnya orang yang tidak begadang dan bangun pagi mendapatkan hasil tes yang terbaik saat pagi hari dan bekerja jauh lebih baik dari orang yang begadang mendapatkan hasil yang baik saat tes di malam hari.

Hasil ini membuat peneliti berkesimpulan orang yang suka begadang tidak cocok dengan pola kerja pada umumnya yakni 9-to-5 kaerna tidak sesuai dengan jam biologisnya. “Ketidak cocokan antara waktu biologis seseorang dan waktu sosial, sebagian besar dari kita alami dalam bentuk jet lag, adalam masalah umum bagi orang yang begadang an mencoba mengikuti waaktu kerja normal,” kata pemimpin penelitian ini Elise Facer-Childs dari Monash Institude, Australia, dikutip dari Live Science. (Asep Saepudin Sayyev)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 22 Februari 2019

SHARE

Tinggalkan Komentar