Situs Sumur 7 Hilang

512
sumber gambar : https://i2.wp.com/www.heibogor.com

“Kita akan cek ke Disparbud itu statusnya apa. Kalau itucagar budaya harus dihentikan dan dikembalikan lagi seperti semula”

Lahan seluas 6.000 meter di wilayah RT 04.RW 05, Kelurahan Lawanggintung, Kecamatan Bogor Selatan disebut-sebut sebagai tempat situs sumus7. Namun kini keberadaan situs tersebut diduga hilang diuruk tanah pemilikbarunya. Kabar yang berkembang, lahan yang baru dibeli belum lama itu akandibangun perumahan.

Seperti diketahui, Situs Sumur 7 masih berada satu area seputaran “Dayeuh Pakuan” yakni Kelurahan Pamoyanan, Cipaku, dan Lawanggintungdi Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor pernah disapu angin putting beliung, Kamis (6/12) lalu. Akibatnya, ribuan rumah warga di kawasan Kecamatan Bogor Selatan dan Timur Porak Poranda.

Sedangkan warga setempat yang tahu betul keberadaan sumur bersejarah tersebut merasa kaget dan kesal. Salah satunya diungkapkan oleh IbuIke (65) warga RT 03/RW 05 Lawanggintung. Menurut Ike, ia ingat betul letakposisi sumur itu berada. Saat ia melihat langsung ke lokasi, dirinya merasakaget dan bingung kenapa letak sumur tiba-tiba berubah dan pemilik sekolah menyelamatkan keberadaan situs tersebut menutup dengan hong beton.

“Saya ingat betul posisi sumur tidak jauh dari musala bukan seperti saat ini yang ditandai adanya hong beton. Ini kenapa jadi jauh letaknya? Saya sampe merinding dan kaki saya gemeteran melihatnya.” Ungkap Ike, saat ditemui Minggu (9/12).

Ike menuturkan, air sumur ini, mengaliri tujuh sungai yangada di Bogor hingga ke Istana. Sumur itu, dulu sering digunakan oleh warga yangmembutuhkan air baik untuk kebutuhan di rumah, untuk mandi maupun untuk shalat.Airnya pun sangat jernih berwarna hijau kebiruan. Meski bisa diambil dengantangan, untuk memudahkan warga mengambil air terutama untuk shalat, maka dipasanglah mesin sanyo untuk mengucurkan air.

“Nah, sumur yang saya lihat tadi pun aneh. Pertama, letakposisinya yang berubah. Kedua, meski ditimpa pakai hong beton yang ditumpuk bersusun tetap saja air sumur itu bisa naik ke atas,” ungkapnya.

Sementara. Ketua RW 05 Sutisna mengatakan, dirinya mengetahui adanya situs sumur 7 didalam lahan tersebut. Namun, ia tidak mengetahui adanya proyek pembangunan di lahan tersebut.

“Dari informasi yang saya dapat, sumur 7 itu telah diurug.Mungkin karena mendengar warga ramai, para pekerjanya membuat lagi sumur memakai hong berdiameter 70 cm yang ditumpuk. Jadi seolah-olah sumur itu tetap ada dan dijaga. Mungkin itu jawabannya kenapa letak posisi sumur berubah? Karena bikin sumur baru, dan yang lama sudah diurug,” katanya.

Masih kata Sutisna dirinya pun tidak tahu lahan itu sudah dijual ke orang lain. Ia merasa tidak pernah ada yang datang laporan maupunminta izin ke pihak RT dan RW setempat. “ Pihak Kecamatan tidak tahu, dinas terkait gak tau. Kita yang di wilayah tingkat RT / RW juga gak tau. Sampai para pekerjanya pun tidak ada yang ita kenal. Intinya belum ada izin lingkungan danizin dari warga,” ujarnya.

Sutisna melanjutkan, baru ramainya setelah ada kejadian anginapuyuh (putting beliung) Sebagian warga berpendapat situs peninggalan leluhuryang dirusak berakibat terjadinya angin putting beliung di wilayah Lawanggintung dan sekitarnya. Hal itu, ditandai adanya Guntur yang cukup panjang sehari sebelum bencana itu terjadi. Ini peristiwa yang cukup besar dalam sejarah Kota Bogor khususnya di wilayah Lawanggintung dan Batutulis.

“Lepas itu benar atau salah, sebagian warga masih menyakinisesuatu hal yang tidak boleh disalahgunakan pada situs-situs peninggalansejarah. Oleh karena itu, ini yang sedang kita telusuri. Pengerjaan apa yangsedang dilakukan, perizinannya bagaimana, termasuk soal situs pun akan di cekke Disparbud mengenai status cagar budaya di situ,” pungkasnya.

Sementara Wali Kota Bogor, Bima Arya meninjau langsung kelokasi yang disebut warga Situs Sumur 7. Di lokasi tersebut. Bima menanyakan soal aktivitas pengerjaan, jual beli lahan dan soal perizinanya kepada Camat Bogor Selatan dan pekerja yang ada di lokasi. Menjawab pertanyaan Bima, Cama Bogor Selatan, Sudjatmiko Baliarto, mengaku tidak mengetahui soal jual belilahan tersebut dan belum pernah mengeluarkan izin untuk proyek itu. Sedangkan pekerja yang ditanya mengatakan hanya menjalankan perintah dan tidak mengetahui segala hal dibelakang itu.

Bima mengatakan, akan mengecek berkas dokumen mengecek berkas dokumen perizinanya ke dinas terkait.

“Mengenai situs, ada informasi itu cagar budaya yang sekarang dilakukan pengerjaan oleh pemilik baru. Kita akan panggil pemiliknya untuk ditanya perizinannya dan lain-lain, dan kita akan cek ke Disparbud itustatusnya apa. Kalau itu cagar budaya harus dihentikan dan dikembalikan lagi seperti semula,” Kata Bima. (Handy Mehonk)

Sumber : Koran Jurnal Bogor, Edisi 10 Desember 2018

SHARE

Tinggalkan Komentar