Sulsel Dikepung Banjir

589
sumber gambar: http://spiritriau.com

9 TEWAS, RIBUAN WARGA MENGUNGSI

Banjir sejak 10 tahun terakhir melanda Sulawesi Selatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan berupaya mengevakuasi warga yang terdampak banir dan longsor di sepuluh kota dan kabupaten, yang sejauh ini menyebabkan 9 orang meninggal dan enam hilang.

Tujuh korban tewas merupakan warga Kabupaten Gowa, sementara dua lainnya dari Kabupaten Jeneponto. Sementara itu, lebih dari 3000 orang mengungsi.

“Ada beberapa yang hilang karena longsor, dan ada juga yang terseret sama arus banjir,” ungkap Hasriadi dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sulsel, Rabu (23/1).

Banjir yang mengepung Sulsel sejak Selasa (22/1) lalu, diawali hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang dan gelombang pasang telah menyebabkan sungai-sungai meluap. Dta sementara tercatat 53 kecamatan di 9 kabupaten/kota di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami banjir yaitu di Kabupaten Jeneponto, Gowa, Maros, Soppeng, Barru, Wajo, Bantaeng, Pangkep dan Kota Makassar.

Kepla Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, dampak sementara akibat banjir menyebabkan dampak sementara akibat banjir menyebabkan ribuan rumah terendam banjir, dan 10.021 hektar sawah terendam banjir. Penaganan darurat dan pendapatan masih terus dilakukan.

Di Kabupaten Jeneponto, banjir melanda 21 desa 10 kecamatan yaitu kecmatan Arung Keke, Bangkala, Bangkala Barat, Batang, Binamu, Tamalatea, Tarowang, Kelara, dan Turatea dengan tinggi banjir 50-200 centimenter. Banjir akibat hujan deras sehingga sungai-sungai meluap, diantaranya sungai topa, Allu, Bululoe, Tmanroya, Kanawaya, dan Tarowang. Evakuasi, pencarian, penyelamatan an distribsi bantuan masih terus dilakukan. Banyak warga yang mengungsi sementara di atas rumah sambil menunggu dievakuasi.

Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat. Di kota Makassar, banjir melanda 14 kecamatan yaitu kecamatan Briringkanaya, Bontola, Kampung Sangkarang, Makassar, Mamajang, Manggala, Mariso, Pankkukang, Rampocii, Tallo, Tamalanrea, Tamalatea, Ujung Pandang 1.000 jiwa warga mengungsi. Banjir juga disebabkan hujan deras kemudian sungai-sungai yang bermuara di Kota Makassar meluap.

Di Kabupaten Gowa, banjir melanda 7 kecamata yaitu Sombo opu, bontomanamu, pattalangsang, parangloe, palangga Tombolonggo dan Mnuju. Selain hujan deras, banjir juga disebabkan dibukanya pintu waduk Bili-Bili karena terus meningkat volumer air di waduk. Sehingga untuk megamankan waduk maka debit aliran keluar dari waduk Bili-Bili ditingkatkan.

Tercatat 3 orang meninggal dunia, 45 orang luka-luka, 2.121 orang mengungsi yang tersebar di 13 titik pengungsian, lebih dari 500 unit rumah terendam banjir setinggi 50-200 centimeter dari dampak banjir di Gowa. Banjir juga menyebabkan 2 jembatan rusak beart syaehingga tidak dapat digunakan yaitu jembatan jenelata di Desa Moncng Loe Kecamatan Manuju dan jembatan di Dusun limoa Desa Patalikang kecamatan Manuju. Hujn deras juga memicu longosr di beberapa tempat sehingga menutup jalan dan merusak beberapa rumah.

Sementara itu banjir di Kabupaten Marros melanda 11 kecamatan. Lebih dari 1.400 orang mengungsi. Pendataan masih dilakukan. Listrik padam sehingga komunikasi juga putus. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan Pusdalops BPBD. Tim reaksi cepat BNPB mendampingi BPBD. Penanganan darurat masih terus dilakukan oleh tim gabungan. BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, SKPDM PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat. Perahu karet dan bantuan permakanan untuk pengungsi masih diperlukan. Korban hilang masih dilakukan pencarian. Kondisi hujan yang masih berlangsung dan luasnya wilayah yang terkena banjir cukup menyulitkan dalam penaganan. (Asep Sapudin Sayyev)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 24 Januari 2019

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here