Taman Dilan tak Sesuai Karakter Budaya

263
sumber gambar: https://beritabaik.id

WARGA JABAR KECEWA SIKAP BERLEBIHAN RIDWAN KAMIL

Masyarakat Jawa Barat dibuat berpolemik atas rencana pembangunan taman yang digagas Gubernur Jabar, Ridwan Kamil. Masalahnya bakal membangun Taman Dilan atau Pojok Dilan. Warga Jabar pada umumnya menolak rencana tersebut.

“Rencana pembangunan taman dengan diberi nama Dilan ini mebuat saya secra pribadi sangat kecewa. Warga Jabar lain pun banyak yang satu suara dengan saya. Mereka menilai rencana ini sangat berlebihan,” kata pemerhati sosial dan pendiidkan dari Lembaga Bantuan Pemantau Pendidikan (LBP2) Jabar, Asep Maung, Senin (4/3).

Asep mengatakan, kalaupun gubernur ingin memberikan apresiasi terhadap kesuksesan film Dilan, alangkah lebih baik penghargaan diberikan langsung kepada penulisnya, Pidi Baiq.

Pasalnya, jika membangun taman dengan nama sesuai film, itu sangat berlebihan.

“Kalau ingin membangun taman bertema literasi sih sah-sah saja, itu bukan hal yang salah. Tapi kalau diberi nama Dilan, sangat berlebihan. Ini terkait dengan tokoh Dilan. Saya juga khawatir anak-anak tdak bisa mencerna isi fim tersebut secara gamblang, karena ada adegan anak-anak SMA yang ikut-ikutan geng motor serta berpacaran dengan teman sekolhnya,” ungkap Asep.

Asep khawatir film berdampak terhadap perkembangan akhlak generasi pelajar di Jawa Barat. Apalagi tingkat SMA yang cenderung sedang mencari jati dirinya.

“Kalau nanti ada taman atau pojok bernama Dilan, seolah-olah bahwa prilaku Dilan dan Karakter Dilan itu harus dicontoh. Ini akan menjadi satu permasalahan moral tentunya,: terannya.

Lebih lanjut ia menilai, berkaitan dengan litarasi akan lebih elok jikan taman dinamai Taman Literasi. Atau bahkan lebih baik jika penamaan mengambil nama tokoh film di Jawa Barat.

“Saya rasa ada yang lebih fenomenal dan lebih cenderung sesuai dengan karakter budaya yang ada di Jawa Barat, contohnya almarhum Kang Ibing dengan Kabayannya dan Nyi Iteungnya. Saya ras nama Kabayan dan Iteung orang se-Indoeisa pun sdah tau dan asti identik dengan Jawa Barat. Kalau pun mau per orangan dengan mengedepankan nama dari pemeran, ya saya rasa almarhum Kang Ibing Paling tepat,” ungkap Asep.

Dengan masih adanya polemik di tengah masyarakat, Asep meminta gubernur megkaji ulang rencananya dan tidak “merekedeweng”. Artinya gubernur harus memikirkan aspirasi warga Jawa Barat dan jangan mengedepankan ide yang muncul dari inisiatif pribadi.

“Bukan artinya saya perbadi tidak menghargai tapi justru ini karena perhatian saya gubernur. Hemat saya, pembuatan taman, patung, prasasti atau appaun itu, diharapkan identik dengan nilai-nilai budaya dan sejarah atau dengan nama – namapejuang pendahulu kita yang aa di Jawa Barat ini. Jadi jangan sampai jati teu kasilih ku junti,” tandas Asep.  (Asep Saepuding Sayyev)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 5 Maret 2019

SHARE

Tinggalkan Komentar