Tutup Sekolah yang Sering Tawuran

1875
sumber gambar: https://www.harianhaluan.com

Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum menyayangkan tawuran antar pelajar yang menewaskan pelajar SMK Pelita Ciampea bernama Rifki Alfarizi (18), warga Sadeng RT 01, RW 01 Desa Sadeng, Kecamatan Leuwisadeng yang terjadi baru-baru ini.

“Turut prihatin dengan kejadian kemarin tawuran di Bogor. Apalagi di Bogor sering terjadi, ini sangat disayangkan apalagi tawuran itu hingga berujung kematian,” kata Uu kepada Jurnal Bogor dalam sambungan teleponnya, kemarin.

Kata Uu sering terjadi tawuran pelajar menandakan kurang tegasnya pihak sekolah dan pembinaan mental bahkan pendidikan agama terhadao siswa-siswinya. “Ini menandakan telah terjadi dekadensi moral terhadap anak hingga tawuran kerap terjadi bahkan hingga berujung maut. Tentu ini harus dievaluasi. Apalagi yang melakukan tawuran sekolahnya itu-itu saja.

Uu pun meminta Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat untuk mengevaluasi bahkan memberikan sanksi terberat untuk mencabut izin dari sekolah tersebut.

“Tentu harus dievaluasi baik dari kepala sekolahnya kenapa demikian karena kepala sekolah tidak bisa mengurus sekolah tersebut bahkan sanksi terberatnya harus dicabut izinnya,” tegas Wagub.

Sementara Pemerhati Pendidikan Kabupaten Bogor, Budi menagtakan, tawuran yang kerap terjadi di wilayah Bogor Barat Kabupaten Bogor sering terjadi dan sekolah yang melakukan tawuran itu sekolahnya adalah Sekolah Pandu.

“Kalau di Utara Mensis kemarin sudah ditutup karena siswanya yang sering melakukan tawuran dan brutal. Untuk di Bogor Barat yang terkena sering melakukan tawuran itu Pandu tentu ini harus ada ketegasan untuk diberikan sanksi yang berat,” ujarnya.

Sambungnya yang sangat disayangkan sekolah tersbeut masih menerima siswa yang sudah di drop out dari sekolah lain. “Yang kemarin iru kan (terduga) masa umur 20 tahun masih sekolah harusnya itu ukuran kuliah. Saya kira kalau gak bisa mengurus mengelola sekolah lebih baik tak usah menerima siswa  banyak – banyak dan asal menerima siswa,” tegasnya.

Sebelum Kapolsek Leiwiliang Kompol Mochamad Imam Sudarso mengaku, pihaknya masih melakukan pengembangan dan berkoordinasi dengan Sekolah Pandu. Karena, sudah mengarah ke tiga pelaku dari keterangan saksi-saksi dan sudah mengantongi para pelaku.

“Mungkin mereka janjian, dan tawuran kemarin siswa Pelita berjumlah 10 dan Pandu ada 5 orang ketika Pandu mengeluarkan senjata semua berhamburan dan mengejar siswa Pelita dan mengenai satu orang terkena sabetan senjata tajam,” akunya. (Cepi Kurnia)

Sumber: Koran Jurnal Bogor, edisi 25 Januari 2019

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here